Radio Anugerah - Muara
Bandra Udara Silangit
Marari Sabtu,
yaitu pada setiap hari Sabtu atau Samisara seluruh umat Parmalim berkumpul di tempat yang sudah yang sudah ditentukan baik si Bale Partonggoan, Bale Pasogit di pusat maupun di rumah parsantian di cabang/daerah untuk melakukan sembah dan puji kepada Mulajadi Nabolon dan pada kesempatan itu para anggota diberi poda atau bimbingan agar lebih tekun berprilaku menghayati Ugamonya.
Martutuaek,
yaitu upacara yang dilakukan dirumah umat yang mendapat karunia kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Anak yang baru lahir sebelum dibawa berpergian kemana mana harus lebih dahulu diperkenalkan dengan bumi terutama air untuk membersihkan dan ini dilaksanakan untuk membawa anak tersebut ke umbul mata air disertai bara api tempat membakar dupa. Kemudian baru dibawa ke dunia baru yaitu pasar dan diberi buah buahan manis perlambang hari kedepan yang makin manis. Setelah dirumah dilanjutkan lagi dengan upacara, bergantung kepada kemampuan keluarga tersebut. Pada saat pulang dari pasar tadi,siapa saja diinginkan oleh keluarga si anak meminta buah buahan bawaan si anak tadi sebagai perlambang bahwa si anak kelak akan bersifat maduma.
Mardebata,
Yaitu upacara yang sifatnya individual dimana seorang melaksanakan upacara sendiri tanpa melibatkan orang lain. Ritus ini sendiri mempunyai tujuan ganda yaitu meminta keampunan dosa atau menebus dosa dan syukuran. Seseorang yang merasa menyimpang dari aturan patik perlu menyelenggarakan pardebataon sebagai sarana untuk menebus dosanya. Bagi orang lain pardebataon itu mungkin pula untuk mewujudkan kaulnya. Jika upacaranya dibuat besar besaran misalnya untuk mewujudkan niatnya harus dengan menyajikan sesaji secukupnya dan boleh juga dihantar gendang sabangunan serta di atur oleh tata upacara resmi sesuai dengan tata upacara dari Ihutan atau dari Uluan.
Pasahat Tondi
Upacara kematian dibagi dalam dua tahap. Pertama adalah pengurusan jenazah menjelang pemakaman, kedua adalah pasahat tondi. Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan upacara doa “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”
Setelah pemakaman,dilanjutkan dengan upacara pasahat tondi yaitu upacara mengantar roh dalam arti harfiah. Tuhan menciptakan manusia atas dua bagian yaitu badan dan roh (pamatang dohot tondi). Apabila badan mati, roh tidak ikut mati, Ia kembali kepada penciptanya, sesuai dengan pandangan Ketuhanan Parmalim, bahwa :”ngolu dohot hamatean huaso ni Debata”.
Adalah upacara atau berpuasa untuk menebus dosa dilaksanakan selama 24 jam penuh pada setiap penghujung tahun kalender Batak yaitu pada ari hurung bulan hurung. Upacara ini bersifat umum dilaksanakan di setiap cabang. Perangkat dasar upacara ini selain pangurason dan pardupaon yang terpenting ialah mangan napaet, diramu dari beberapa jenis buah dan daun yang pahit seperti daun pepaya, buah ingkir,babal,cabe rawit, jeruk bali muda dan garam.
Mangan napaet merupakan pengabdian warga parmalim kepada Raja Nasiakbagi yang menderita untuk manusia. Selain itu merupakan simbol dari kehidupan yang pahit kepada kehidupan yang manis. Dan juga arti mangan napaet akan di akhiri dengan mangan natonggidan inilah permulaan hidup perilaku baru untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari. Setelah mangan napaet maka dilaksanakan pula upacara persembahan kambing putih kepada Mulajadi Nabolon.
Upacara Sipaha Sada
Adalah merupakan upacara yang paling hikmat dan mengandung nilai religius yang paling dalam, bagi umat Parmalim. Pelaksanaan upacara ini disambut gembira karena sehari sebelumnya Parmalim baru saja selesai mengadakan upacara mangan napaet yaitu suatu acara pembebasan manusia dari dosa. Upacara sipaha sada adalah penyambutan datangnya tahun baru Ugamo Malim atau acara pergantian tahun sekaligus dinamakan Tahun Baru Batak.
Hari pertama sipaha Sada disebut artia. Pada hari itu ugamo Parmalim berada pada suasana hening atau disebut robu. Ini merupakan hari perenungan akan perjalanan hidup diri sendiri atau katakan saja dengan dialog batin. Dan hari berikutnya dinamai Suma. Pada hari itu diperingati hari lahir Simarimbulubosi. Upacara dipusatkan di Bale Pasogit. Upacara ini melakukan sesajen juga kepada Mulajadi Nabolon termasuk ketiga wujud pancaran kuasa yaitu Batara guru, Debata Sori dan Debata Balabulan, seterusnya kepada Raja Nasiakbagi dihantarkan asap dupa, dengan bunyi gendang sabangunan.
Yaitu upacara yang dilakukan pada bulan kalender Batak untuk menyampaikan pujipujian kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada wujud Pancaran Kuasanya Batara guru, Debata Sori dan Debata Balabulan, seterusnya kepada Raja Nasiakbagi, karena atas berkatnya semuanya memperoleh rahmat,sehat jasmani dan rohani. Upacara ini disebut upacara kurban, karena sesaji yang di persembahkan adalah kurban berupa kerbau atau lembu.
Sebenarnya upacara ini berpangkal dari persembahan hasil penuaian pertama kira kira dua liter atau patunoma dari panen kepada Mulajadi Nabolon. Upacara dilakukan besar besaran oleh semua umat parmalim yang datang dari segala penjuru tanah air dan ditampung di Bale Pangaminan. Sajian pertama kepada Mulajadi Nabolon diantar dengan asap dupa, dengan bunyi gendang sabangunan.
Upacara sipaha Lima diselenggarakan pada hari ke 12 – 13 dan 14 menjelang bulan purnama. Hari tersebut dinamakan Boraspati, singkora,dan Samisara berkisar antara bulan Juli – Agustus pada bulan Masehi. Upacara diadakan penuh khidmat tanda syukur kepada Mulajadi Nabolon agar diberi keselamatan dan kesejahteraan pada hari hari berikutnya.




Dalam hal ugamo malim dalam hal pengikutnya parmalim bahwa Mulajadi Nabolon dalam wujud kuasa Debata Bataraguru menjelmakan Roh-Nya dalam bentuk keilahian pada jasad, simarimbulu bosi yang membimbing manusia dalam bentuk pemerintahan dengan hukumkerajaan. Inilah yang menjadi asal mula kerajaan dan pemerintahan di tanah Batak. Kuasakerajaan ini kemudian diturunkan kepada Siraja Batak dan seterusnya kepada Raja Sisingamangaraja I sampai dengan XII.
Mulajadi Nabolon dalam perwujutan pancaran kuasa Debata Sorisohaliapan melalui Roh-Nya menurunkan kuasa kesucian (timbangan hamalimon) kepada Patuan Raja Malim asal mula pimpinan habonaran-hamalimon di Tanah Batak. Hukum kesucian ini kemudian diturunkan kepada Raja Uti, yang menurut kepercayaan Batak Tua dianggap nabi dan tidak pernah mati.

Disamping itu masih ada lagi tempat untuk menyembelih hewan kurban yang hendak dipersembahkan. Jika pusat Ugamo Malim dipimpin oleh Ihutan maka daerah daerah atau sering disebut cabang ugamo Malim dipimpin oleh Uluan dan tempat peribadatan untuk itu disebut Ruma Parsantian.
Sampai tahun 1987 pengikut Ugamo Malim sekitar 660 rumah tangga sekitar 6000 jiwa. Sumber ajaran tersebut adalah saat awal Mulajadi Nabolon kembali ke banua ginjang bersama Siraja Odapodap dengan Siboru Deak Parujar setelah merestui dan memberkati Siraja Ihatmanisia dengan Siboru Ihatmanisia dengan sabdanya :”Jika kamu penghuni Banua Tonga hendak berhubungan dengan Aku dengan penghuni Banua Ginjang harus dengan sesajen yang suci dan bersih”.
Sudah kuberikan dua hata kepadamu, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan dirimu sendiri harus bersih dari najis. Bersumber dari ajaran tersebut Parmalim memberikan pelean atau sesajen suci dengan dihantar asap dupa dan air suci serta bersih tidak boleh makan daging babi dan anjing serta darah dan bangkai.

Raja Mulia Naipospos
Ugamo Malim adalah agama Batak Tua dan pengikut nya disebut Parmalim. Pada zaman raja-raja Sisingamangaraja I sampai dengan XII Ugamo Malim langsung dipimpin Raja Sisingamangaraja. Setelah raja Sisingamangaraja XII wafat, Raja Mulia Naipospos nuhi amanah Raja Sisingamangaraja XII untuk memimpin ugamo Malim sebagai peminpin spiritual. Amanah tersebut benar benar di jungjung tinggi oleh Raja Mulia Naipospos dan menempatkan pusat kegiatan di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir.
Setelah Raja Naipospos wafat, pimpinan Ugamo Malim, pimpinan ugamo Malim dilaksanakan puteranya Raja Ungkap Naipospos dan kemudian digantikan anaknya Raja Marnangkok Naipospos setelah ayahnya meninggal tahun 1981. Pucuk pimpinan ugamo Malim disebut ihutan berpusat di Huta Tinggi Laguboti. Ihutan memimpin umatnya dalam upacara upacara di Bale Pasogit atau Bale Partonggoan dimana adalah pusat peribadatan Ugamo Malim. Bale Pasogit ini dilengkapi dengan Bale Parpitaan dan Bale Pangaminan.
Selanjutnya Hukum Kesucian ini diturunkan dan diteruskan kepada Raja Sisingamangaraja. Itulah sebabnya berdasarkan kepercayaan Batak Tua bahwa Raja Sisingamangaraja bukan hanya pimpinan duniawi(sekuler) tetapi juga merupakanpimpinan adat dan pimpinan spiritual.
Selanjutnya menurut kepercayaan Parmalim dan Ugamo pengikut Malim setelah Raja Sisingamangaraja XII wafat (secara jasad) karena kasih Mulajadi Nabolon menjelmakan Roh-Nya pada Raja Nasiak bagi yang sebenarnya adalah roh Raja Sisingamangaraja XII sendiri.
Raja ini bertugas menata, membimbing umatnya Parmalim memasuki Rumah kesucian Tuhan. Hingga saat ini Raja Nasiak bagi tetap berada dan menjadi jungjungan Ugamo Malim.
Perihal Raja Nasiak bagi mempunyai dua belas wujud sebutan yaitu:
1. Raja Tubu
2. Raja sitautau
3. Raja tumurut adat
4. Raja panjalahi
5. Raja pangoloi
6. Raja panghophop
7. Patuan Raja Malim
8. Raja Tumurut Uhum
9. Raja shinta Mardongan
10. Raja Pandiori
11. Raja Sioloan
12. Raja Nasiakbagi

Bale Parpitaan adalah tempat untuk mengugamohon atau tempat untuk meniatkan sajian yang hendak dipersembahkan oleh Ihutan, sedang Bale Pangaminan adalah untuk tempat perkumpulan para umat Ugamo Malim dan dapat di tempati menjadi tempat tinggal selama menunaikan upacara upacara.
Tidak hanya terfokus pada daerah Laguboti sebagai Daerah Tujuan Wisata tempo itu, Berkunjung ke daerah Kabupaten Toba Samosir, jangan pernah melupakan yang satu ini sebagai referensi kunjungan perjalanan anda. Kota Tarutung. Yah, kota itu itu menjadi referensi kunjungan yang menarik untuk di pertimbangkan. Di kenal sebagai Kota Wisata Rohani, karena disana terdapat Salib Kasih, Yaitu sebuah menara berbentuk salib setinggi kurang lebih 30-an meter, yang dibangun Pemerintah Tapanuli Utara di bukit Siatas Barita Tarutung.
Di tempat kunjungan tersebut kita akan melihat kota tarutung dari bukit siatas Barita. Walau sudah lama bertempat tinggal di Laguboti, yang kenyataannya cuman 2 jam perjalanan kesana, tapi saya pribadi belum pernah mengujungi tempat itu karena alasan tidak ada kesempatan. Namun setelah 2 tahun menjalani pendidikan di bandung, dan kebetulan mudik untuk liburan semester, baru saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tempat itu dengan rasa yang sangat 100% penasaran.
Kesan pertama mengunjungi Salib Kasih Tarutung, terkesan Wah. !!!.. ya. Karena tempat itu sangat hening, nyaman dan fresh dilengkapi fasilitas rumah doa. Saat itu, saya di temani oleh salah seorang mahasiswi Politeknik Informatika Del, Laguboti. Rasa senang dan wah itu, membuat aku tidak pernah melupakan moment itu.
Setelah dari tempat itu, kita mengalihkan perjalanan menuju Pemandian Air soda, sekitar 1 jam perjalanan dari Salib Kasih. Menurut referensi web yang saya pahami, Dalam kolam pemandian Air soda itu merupakan sejenis air yang di karbonasikan dan dibuat bersifat efervesen dengan penambahan gas karbon dioksida di bawah tekanan. Dan kini sumber air soda ini telah terdapat di tapanuli utara. Dan ini merupakan salah satu obyek wisata di Tarutung yang belum dapat dioptimalkan sebagaimna layaknya sebuah wisata.
Perjalanan Pulang dari tempat itu juga tidak di lewatkan begitu saja, kita menikmati Panorama sekitar, seperti Aek Sigeaon, percis bergandengan dengan pusat kota Tarutung. Juga tambak Raja Hutapea Tarutung. Akhir kalimat : semoga kota Tarutung terus berkembang dan Maju. Horas.
Salib Kasih Tarutung, di bukit Siatas Barita
BATAK ETHNIC PHOTOSHOW
WELCOME TO LAGUBOTI
MAKAM SISINGAMANGARAJA XII
AEK SIPITUDAI SIANJUR MULA MULA
SOPO GURU TATEABULAN PUSUK BUHIT
AEK SIRAMBE BONAN DOLOK
TAOR MUAL SIPANGOLU SIBARANI