Welcome to http://jadimanhutapea.blogspot.com

Laman

Tampilkan postingan dengan label Dalihan Natolu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalihan Natolu. Tampilkan semua postingan

Falsafah Sosial Suku Batak

Merupakan sebuah aspek kehidupan yang penting bagi orang batak, yakni falsafah sosial orang batak. Falsafah yang dimaksud ialah Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat.  Falsafah ini sudah lama ada di kehidupan suku Batak dan merupakan rujukan di dalam aktifitas kemasyaraktan seperti uparaca ada perkawinan, upacara kematian, memasuki rumah, musyawarah dan yang lainnya. Falsafah tersebut sekaligus pedoman dalam bertingkah laku “ adat sopan santun” dalam pergaulan interaksi kekerabatan yang kecil sampai kelompok besar.

Dalihan Na Tolu ( Tungku yang Tiga)
Secara harfiah bermakna “tungku yang tiga”. Diambil dari kebiasaan orang Batak pada masa bersahaja dahulu ketika memasak sesuatu makanan diatas batu yang jumlahnya tiga dan sama sisi. Dalihan Na Tolu pada masyarakat batak adalah asas system kekerabatan dan semua aktifitas.

Dalihan Na Tolu dilatarbelakangi oleh adanya krisis social kekerabatan pada generasi ketiga setelah Si Raja Batak. Peristiwa dimaksud terjadinya marsumbang atau kawin incest antara Tuan Sariburaja dengan saudari kandungnya(iboto) yang bernama si Boru Pareme. Kedua orang tersebut adalah anak dari Tatea Bulan sebagai generasi kedua beserta Raja Isumbaon. Akibat perbuatan itu Sariburaja dikabarkan lari kedalam hutan sementara siboru pareme juga diusir dari kampong Sianjur Mulamula.
Kemudian masa berikutnya, Raja Lontung mengawini ibu kandungnya (siboru Pareme) yang sebelumnya diketahui istri bapaknya sendiri. Akibatnya terjadi perpecahan hubungan kekerabatan seluruh keturunan Tatea Bulan.
Belajar dari perbuatan itu, keturunan Tatea Bulan dan Raja Isumbaon memikirkan suatu norma yang akan mencegah perbuatan memalukan itu. Sejak itu timbullah gagasan suatu konsep dasar aturan tentang batasan hubungan kekerabatan antar keturunan mereka secara lisan yang kemudian disebut Dalihan Na Tolu. 
Semakin bertambahnya penduduk maka semakin terbuka kemungkinan perkawinan antar puak puak yang pada akhirnya masyarakatnya semakin kompleks. Maka dimulailah penggolongan anggota masyarakat dengan kategori Hula hula, Boru, dan dongan sabutuha (teman satu marga).
Pertama, ialah dongan sabutuha yang bermakna lahir dari perut yang sama atau disebut juga dongan tubu(teman satu kelahiran). Makna yang pertama menggambarkan hubungan keluarga yang masih dekat seperti satu ompung (kakek). Makna yang kedua adalah keluarga besar yang satu marga tanpa memandang hubungan silsilah yang dekat.  Fungsi dongan sabutuha dalam system kekerabatan adalah sebagai pendamping dan penolong bagi keluarga yang satu marga apabila ada dari satu marga bertindak sebagai suhut (tuan rumah).
Kedua, ialah hula hula . mereka ini wajib dihormati oleh boru baik dalam hubungan social sehari hari maupun adat, karena status mereka adalah si pemberi istri (wife givers). Golongan didalamnya adalah orangtua perempuan si pemberi istri beserta semua “ dongan sabutuha”-nya.
Ketiga, ialah boru  atau kebalikan dari hula hula. Dalam dalihan na tolu diposisikan sebagai si pengambil istri (wife takers). Fungsi boru boleh dikatakan sebagai kelompok “si loja loja” karena dialah yang bertindak sebagai petugas utama dalam upacara adat perkawinan dan upacara lain. Bahkan lebih dari itu pihak boru harus si penyumbang dana yang terbesar bagi pihak hula hula.
Demikianlah  ketiga komponen itu menyatu dalam Dalihan Natolu diterapkan dalam upacara perkawinan, tata krama pergaulan hidup.  Inti dari falsafah itu adalah : hormat marhula hula (hormat kepada pihak si pemberi istri), elek marboru (pandai membujuk boru) dan manat mardongan tubu (sesama saudara semarga lebih berhati hati).

Suhi Ni Ampang Na Opat
Secara harfiah “Suhi Ni Ampang Na Opat” berarti sudut ampang yang empat. Istilah ini di ambil dari kata ampang yang dalam bahasa Batak bermakna sejenis keranjang yang hamper serupa bentuknya dengan bakul. Ampang ini memiliki empat “suhi”(sudut). Dari ampang yang bersegi empat ini menjadi symbol falsafah “Suhi Ni Ampang Na Opat”. 

Komponennya adalah
·         Hormat marhula hula (hormat kepada si pemberi istri)
·         Elek marboru (bersikap membujuk kepada sipengambil istri)
·       Manat mardongan tubu (hati hati sesama kakak adik atau sesama marga)
·         Hormat mar-raja (hormat kepada raja).

Dalam penerapannya, raja tetap didaulat sebagai orang yang penting dan utama dan bukan diibaratkan seperti sihal-sihal yang sewaktu saja dibutuhkan. Dalam acara, posisi raja disejajarkan dengan hula hula, boru dan dongan sabutuha. Khusus dalam keagamaan, semua yang termasuk pemimpin agama mendapat jambar (bagian tersendiri sebagai penghormatan kepada mereka) 

Sejarah Masuknya Agama Kristen di Tanah Batak

Agama Kristen datang melalui misionaris dari Eropa. Richard Burton, Nathaniel Ward. Dan Evans adalah penyebar pertama yang datang membawa agama Kristen ke Tanah Batak. Mereka bertiga sengaja diutus gereja baptis Inggris sebagai penginjil ke Indonesia khususnya ke Tanah Batak, Sumatera.
Setibanya mereka di Bengkulu pada Tahun 1820, Burton ditempatkan di Sibolga, Evans bertugas di Padang, Sedangkan Ward di Bengkulu. Namun setelah 4 Tahun menginjil disana, mereka bertiga mengalihkan penginjilan kearah Tanah Batak, karena diketahui daerah tersebut sebagaian besar penduduknya masih Kafir atau belum memiliki agama.
Pada Tahun 1924 di Sibolga, mereka mulai penjelajahan penginjilan dengan sasaran utama daerah Danau Toba.  Pada tanggal 4 mei 1824 di daerah Silindung, mereka disambut dengan ramah oleh Raja raja Silindung. Raja menjawab bahwa mereka tidak sanggup meninggalkan tradisi adat yang telah menjadi bagian tubuh selama ini.
Pada Tahun 1834 dua missionaries Amerika Serikat bernama Samuel Muson dan Henry Lyman diutus suatu zending di Boston utk pekabaran injil di tanah Batak. Mereka memasuki SIbolga, lalu kemudian ke Rura Silindung, namun mereka berdua dibunuh dan dagingnya dimakan oleh sekelompok orang Batak. Peristiwa itu terjadi di kawasan Lobu Pining, dekat kampong Adian Hoting ( Tobing, 1956 : 14). Peristiwa itu digambarkan sebagai akibat ketakutan dan kemarahan orang Batak terhadap bahaya yang mengancam kebebasan mereka yang datang dari pihak “sibontar mata” atau orang barat. Meski peristiwa pembunuhan itu tersiar luas ke Eropa, namun para missionaries barat seakan tidak takut untuk mengunjungi tanah Batak.
Holland mengirim Van Asselt untuk bekerja sebagai penginjil di sumatera. Dia tiba di Padang pada bulan Desember 1856, Gubernur Sumatera Barat mempekerjakan nya sebagai pengawas produksi perkebunan kopi milik pemerintah Belanda di Angkola sekaligus untuk misi penginjilannya. Setibanya di sipirok kawasan Angkola, dia menunaikan tugas penginjilan. Inilah usaha pertama kali yang berhasil dilakukan di Tanah Batak. Dengan berbagai usaha Ia berhasil membaptis Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar sebagai orang pertama masuk agama Kristen di Sipirok bahkan diseluruh kawasan Tanah Batak.
Selama rentang empat tahun, para missionaries dari Belanda berdatangan mengikuti jejak Van Asselt seperti Dammerboer bertugas di Hutaimbaru, Van Dalen di Pargarutan dan Betz di Bungabondar yang kesemuanya berada dikawasan Angkola.
Pada 7 oktober 1861 Van Asselt berkumpul bersama missionaries Belanda dirumah Bondanalolot Nasution di Parausorat-Sipirok utk menyambut kedatangan missionaries Jerman dan merencanakan penginjilan di Tanah Batak. Mereka adalah Klammer. Sejak itulah berkesinambungan pengijilan di tanah Batak yang beralih dari missionaries Belanda ke missionaries Jerman. Tanggal itulah yang dijadikan sebagai hari lahirnya Gereja HKBP (Huria Batak Kristen Protestan).

Pekabaran injil (PI) yang paling kuat dan membuahkan hasil adalah usaha yang dilakukan Ludwiq Ingwer Nommensen. Dia  adalah pendeta yang diutus Rheinische Mision Gesellschaft (RMG) suatu organisasi gereja Jerman di kota Bremen. Ia tiba dikota Padang pada tanggal 14 Mei 1862 setelah menempuh perjalanan selama 142 hari dengan kapal Laut. Rencana awal dimulai dari Sipirok dengan misi ke Barus. Pengijilan tersebut terus berkesinambungan  hingga ke daerah Batak Toba, Silindung, Tukka, Bungabondar, Simangambat, Huta Banjar, Sigotom. Ia juga memberikan pengobatan terhadap warga tersebut, mendirikan sekolah di Huta Dame yang selanjutnya dipindahkan ke Pearaja. Hingga kini kampung itu menjadi Pusat administrasi Jemaat HKBP seluruh Indonesia. Hingga dewasa ini daerah Tanah Batak khususnya Batak Toba mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen. (Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)


Kepercayaan Batak Sebelum Lahirnya Agama Malim

Sebelum Agama Islam dan Kristen datang ke tanah batak, orang batak telah mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dinamakan Tuhan Debata Mulajadi Nabolon. Kepercayaan yang demikian diperkirakan telah berlangsung lama yakni sejak dari Siraja Batak. Walaupun pada masa itu masyarakat Batak dapat dikatakan masih dalam keadaan tidak beragama (pagan), namun eluruh kehidupan pribadi dan social orang batak telah diresapi oleh konsep keagamaan.

Paganisme orang batak adalah suatu campuran dari kepercayaan keagamaan kepada Debata, pemujaan yangbersibat animism terhadap roh roh yang sudah meninggal dunia dan dinamisme(Vergouwen, 1986:79).  Disatu sisi pemujaan terhadap Debata diakui sangat menonjol tetapi disisi lain unsure pemujaan roh nenek moyang dan pemujaan terhadap benda yang sudah dianggap memiliki kekuatan yang menyatu bercampur dalam bentuk keagamaannya sehingga batas ketiga unsure tersebut tidak tampak dengan jelas.
Dalam kepercayaan paganisme orang Batak Debata Mulajadi Nabolon merupakan Tuhan  Yang Maha Esa. Dia adalah  maha pencipta dan maha kuasa yang tidak berawal dan tidak berakhir ( Sangti,1978 : 328). Tak satupun manusia yang sanggup memikirkan akan zat dan kewujudannya. Tidak ada sesuatu yang tidak bermula dari padaNya. Dengan sifatnya, dia disebut Ompu Raja Mulamula dan ompu Raja Mulajadi (Hutagalung 1991:2).
Menurut Tobing(1956:27) Debata Mulajadi Nabolon secara fungsional juga mempunyai nama sebutan lain. Sebagai tuhan yang berkuasa di Banua Ginjang (upperworld), di Banua Tonga (middle world), dan tuhan yang berkuasa di banua toru (underworld).
Kendati demikian dalam konsep kesatuan totalitas dari semua kosmos itu Debata Mula Jadi Nabolon dipastikan sebagai tuhan yang menguasai seluruhnya. Disamping kepercayaan kepada Debata Mulajadi Nabolon yang dipercayai sebagai pembantu Debata. Tiga Debata yang dimaksud adalah Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan. Ketiga nama ini tampaknya diambil dari Trimurti Hindu, sedangkan Debata Mulajadi Nabolon mungkin adalah Debata asli orang Batak (Vergouwen, 1986:80).   
(Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)


Kepercayaan Kepada Sahala - Batak

Pengertian Sahala
Sahala mempunyai arti yang sangat luas. Apabila diartikan kedalam bahasa yang hamper tidak ada padanan kata yang cocok dengannya. Meskipun kamus bahasa Batak _ Indonesia mengartikan sahala sebagai kharisma dan wibawa, namun belumlah tepat dengan makna yang sesungguhnya. Vergouewen memaknakan Sahala sebagai daya khusus dari tondi (jiwa). Menurut kepercayaan agama Malim, sahala adalah roh suci yang bersumber dari Debata mulajadi Nabolon yang diturunkan melalui Balabulan kepada seseorang manusia yang terpilih.
Wujud sahala adalah gaib, halus dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan tidak pula diketahui kapan masuk dan hinggap pada diri manusia. Orang yang disebut marsahala dapat terlihat pada kehidupannya sehari hari, dan akan terjadi perubahan pada dirinya terutama dari segi sikap dan perilaku. Ciri lain orang yang marsahala adalah kemampuan pada dirinya untuk memberikan pengobatan pertolongan kepada orang lain. Sahala yang datang itu disebut sahala pangubati. Selain itu ada juga yang disebut sahala pangajari(pengajar), sahala panuturi (penutur) dan sahala panghongkop (jiwa pejuang).
Disisi lain orang yang sudah meninggal dunia boleh jadi akan meningkat menjadi sahala apabila selama hidupnya tergolong orang yang baik dan suci. Roh nya itu bias dipanggil melalui upacara agama disebut mardebata ( menyembah Debata). Kegiatan itu dilakukan dengan memohon kepada pargonsi (juru gendang) untuk membunyikan gendang khusus kepada sahala amang  atau sahala ompu. Sebaliknya orang yang meninggal bergumulan penuh dosa, maka dia setelah mati bukan menjadi sahala melaikan begu.

Sahala Marsangap dan Sahala Martua
Merupakan sebuah nama panggilan terhadap para malim Debata. Yang diutus membawa agama di Tanah Batak. Mereka itu ialah Raja Uti, Simarimbulubosi, Raja na Opatpuluh opat, Raja Sisingamangaraja dan Raja Nasiak Bagi. Panggilan ini muncul kepada mereka karena jasmani (hadirion) mereka tidak tampak lagi dipermukaan bumi ini.
Makna “Sahala Marsangap” secara harfiah adalah tondi yang sangat mulia dan terhormat, sedangkan makna “sahala martua” adalah roh yang  sangat bertuah, bermarwah dan bahagia.

(Sumber : Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)

Raja Sisingamangaraja I - XII

Penyebutan dirinya bernama Sisingamangaraja sebenarnya bukanlah atas kemauan sendiri melainkan karena demikianlah bisikan Debata kepadanya. Itu makna bahwa secara fisik boleh saja dirinya bernama Raja Manghuntal,akan tetapi dari segi rohaniah ia bersama Sisingamangaraja. Dalam kepercayaan agama Malim, Sisingamangaraja disebut juga anak Debata, karena ia dianggap inkarnasi(kesatuan ilahi dengan manusia).
Setelah masyarakat menerima kehadiran Sisingamangaraja pertama sebagai Raja yang resmi di Tanah Batak, beliaulah yang menjalankan Roda kerajaan dan mengayomi masyarakat batak, mengisbatkan adat istiadat, peraturan, hukum dan kerajaan. Selanjutnya setelah beliau wafat kerajaaan dipegang oleh keturunannya secara estafet hingga generasi kedua belas.

Dalam konteks agama malim, roh Sisingamangaraja bukan terbilang banyak, melainkan hanya satu. Sisingamangaraja hanya mempunyai satu sifat dan kepribadian.selain itu perlu dicatat, bahwa pemberian peringkat yang dimulai dari I hingga XII pada nama Sisingamangaraja, sesungguhnya bukanlah pemberian dari keluarganya, melainkan penamaan yang diberi oleh Belanda pada masa penjajahan dengan maksud utk memudahkan orang mengingat penggalan sejarah.
Perkiraan Tahun Kelahiran Sisingamangaraja I – XII
No
Nama Asli
Nama Malim
Tahun Lahir
1
Raja Manghuntal
Sisingamangaraja I
1515 M
2
Raja Tinaruan
Sisingamangaraja II
1545 M
3
Raja Itubungna
Sisingamangaraja III
1575 M
4
Sori Mangaraja
Sisingamangaraja IV
1605 M
5
Ampallongos
Sisingamangaraja V
1635 M
6
Ampanggulbuk
Sisingamangaraja VI
1665 M
7
Ompu Tuan Lombut
Sisingamangaraja VII
1695 M
8
Ompu Sotaronggal
Sisingamangaraja VIII
1725 M
9
Ompu Sohalompoan
Sisingamangaraja IX
1755 M
10
Ompu Tuan Nabolon
Sisingamangaraja X
1785 M
11
Ompu Sohahuaon
Sisingamangaraja XI
1815 M
12
Patuan Bosar Ompu Pula Batu
Sisingamangaraja XII
1845 M
Sumber : Batara Sangti, 1978 : 22

Bagi orang batak dahulu Sisingamangaraja dinamakan “ Debata na tarida sombaon na binoto “ (Debata yang tampak dan objek sembahan yang diketahui). Selaian itu Sisingamangaraja disebut sebagai orang yang sudah tujuh kali malim dan tujuh kali solam ( tujuh kali suci dan tujuh kali takwa) suatu sebutan peringkat tertinggi dalam kesucian (malim) dan kesalehan/ketakwaan (solam). (Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)

Tortor Hasunduton

Tortor ini mengambil tuah gendang terdiri dari tingkat kekerabatan suhut dan suhu ni ampang na opat keluarga.

Gendang pertama disebut gondang Mulajadi, gondang Mula Tompa. Sikap hasuhuton pada tortor ini adalah menyembah kepada Mulajadi Nabolon dan dalam hal penganut Agama Kristen adalah mendoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud tortor menyembah diatas kepala.

Gendang kedua disebut gondang mula mula dimana tortor adalah menyembah berputar ditempat ke arah mata angin desa na ualu, dengan maksud bahwa setiap pekerjaan ada mulanya dan permulaan itu diharap baik baik dan agar mendapat mula yang baik

Gendang ketiga adalah gondang somba somba dalam wujud sikap tortor tangan menyembah minta izin dan restu dari khalayak ramai mereka diperkenankan melaksanakan acara itu



Gendang keempat adalah gondang sampur mareme, dalam sikap tortor mula mula menyembah, kemudian dapat dilanjutkan dengan sikap tangan menari dengan maksud agar tuah dari orang tua mereka, termasuk petuah petuah dan amanatnya serta petunjuk roh suci menjadi hidup mereka dan menjadi kesejahteraan keluarga.

Gendang Kelima adalah gondang Liat Liat dalam wujud tortor menari berkeliling menurut lingkaran dengan makna agar hasuhuton, dan semua yang terlibat dalam upacara mendapat restu.

Gendang ke enam adalah gondang hasahatan wujud tortor menari di tempat dengan maksud apabila acara ini sudah selesai dilaksanakan agar tuah setelah melakukan upacara itu.

Gendang ketujuh adalah gondang sitio tio wujud tortor dengan sikap ulos menyambut tuah agar akibat dari pelaksanaan upacara membawa tuah kesejahteraan dan kejernihan bagi keluarga dan semua yang terlibat dalam acara.

DALIHAN NATOLU - NILAI BUDAYA - SUKU BATAK

Dalihan artinya tungku yang dibuat dari batu. Na artinya yang, tolu artinya tiga. Jadi arti dalihan natolu adalah tiga tiang tungku. Ketiga dalihan/tungku yang ditanam berdekatan berfungsi sebagai tungku tempat alat masak yang dijerangkan. Besar dalihan harus dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain, dan tingginya harus sama dan harmonis.

Dalihan natolu bukan sekedar tungku nan tiga prasarana memasak, tetapi menyangkut seluruh kehidupan yang bersumber dari dapur. Istilah dalihan bagi sub sub Suku Batak tidak sama tapi prinsipnya adalah sama. Misal Batak Karo dan Batak Pakpak Dairi adalah daliken, sedang batak Toba, Batak Simalungun dan Angkola Padang Lawas, Sipirok-Mandailing istilahnya adalahdalihan.

Masing masing dalihan berdiri sendiri dan ditata agar tetap harmonis. Demikianlah keadaan kekerabatan Suku Batak dan pandangan hidup nya, bahwa suhut, hula hula dan boru masing masing mempunyai pribadi dan harga diri tahu akan hak dan kewajiban sebagai pelaksana tanggung jawab. Peranan marga dalam menentukan tempat dan kedudukan sangat penting dalam pertalian Dalihan Natolu. Pertalian apa yang ada antara seseorang dengan pusat kejadian.

Orang mengambil satu rumusan hikmat hubungan

  • Hendaknya setiap hula hula elek marboru maksudnya agar hula hula selalu menjaga sikap membujuk sayang terhadap boru, karena borulah sebagian dari penanggung jawab kegiatan. Walaupun boru itu selalu dibujuk sayang oleh hula hula, bukan berarti supaya boru itu manja.
  • Sebab itu setiap boru dalam hikmat nya harus somba marhula hula, maksudnya adalah agar setiap boru hendaklah bersikap sembah atau hormat kepada hula hula.
  • Sedang pusat kejadian yaitu suhut dengan kawan semarga nya disebut sabutuha hendaklah bersikap manat mardongan tubu , maksudnya agar sesama marga hendaklah bersikap prihatin dan hati hati.

Demikian hubungan hikmat ini dengan keadaan agar segala sesuatu kegiatan dapat dilaksanakan dengan sempurna. Hikmat kewajiban seperti inilah yang perlu di tata agar harmonis dalam kekerabatan, sebagai mana tiang tungku tiga yang diletakkan harmonis satu sama yang lain.

Ketiga unsur yang berdiri sendiri tidak akan ada arti, tetapi harus kerja sama satu sama yang lain baru menghasilkan manfaat yang tanjam. Unsur pertama adalah suhut dengan saudara lelaki disebut dongan sabutuha. Unsur kedua adalah saudara suhut yang perempuan dengan suaminya disebut boru, dan unsur yang ketiga saudara lelaki dari isteri suhut disebut hula-hula.

Ruma Ijuk Ruma Gorga

Ruma ijuk ruma gorga dalam arti harfiahnya adalah rumah beratap ijuk dan mempunyai gorga. Dalam penghidupan sehari hari artinya adakah nabisuk jala na malo marroha. Nabisuk artinya penuh bijaksana, na malo marroha artinya cerdik dan pandai serta diplomat.


Demikianlah kepada seorang yang telah mendapat pendidikan dan pengajaran pertama dari dalam rumah seperti yang di jelaskan dimuka, apabila seorang yang keluar dari rumah melalui tangga maka ia harus menjadi Ruma Ijuk, Ruma Gorga simbol dari Nabisuk jala Namalo Marroha. Ruma di Uhum Manotari di Adat yang artinya bahwa rumah itu adalah tempat belajar hukum atau aturan dan menjiwai adat dari Nilai Dalihan Natolu.


Seseorang yang dikatakan dewasa pada Batak Toba, apabila seseorang itu telah dapat bertanggung jawab atas aturan dan Adat Batak, penuh bijaksana, cerdik dan pandai serta bersifat diplomat.

Jenis Rumah Adat Batak

Jenis Rumah Batak Toba adalah gambaran masyarakat Batak Toba hidup bersama dalam satu kesatuan itu (Sitolumbea) dan adanya pengakuan kebebasan pribadi dalam arti rumah tangga yang tergambar pada Jabu sibaba Amporik. Satu hal yang menarik dari rumah batak toba ini adalah tidak mempergunakan paku sebagai pengikat atau pelekat. Pengikat dan pelekatnya hanya menggunakan tali dan rotan serta hansing hansing terdiri dari kayu keras berasal dari inti pohon enau atau tuas kayu juhar.

JABU SITOLUMBEA

Pintunya dari bawah bagian tengah sebelah muka. Untuk memasuki rumah, kepala lebih dahulu masuk berada didalam rumah baru bagian kaki. Dapat dikatakan untuk masuk ke rumah batak toba adalah dengan naik tangga lalu menyuruk dari bawah baru masuk keatas kedalam rumah.

Apa maksud model rumah demikian ? masih belum diteliti. Apakah hal itu bermakna agar seseorang berkomunikasi dengan seseorang lebih dahulu dengan sopan santun melalui bagian kepala yaitu bagian kening-muka-telinga dan mulut baru bagian kaki, belum jelas sampai sekarang. Penghuni rumah ini adalah nasaripe keluarga basic batak toba yaitu Parjabu Bona- Parjabu Suhut- Parjabu Soding- Parjabu Tamparpiring. Ditengah tengahnya terdapat Dapur dengan kelengkapannya dan sarana tempat pemujaan terhadap Mulajadi Nabolon dan leluhur mereka.


Jenis Jabu Sitolumbea di Huta Bibiraek Kecamatan Laguboti

JABU SIBABA NI AMPORIK

Penguni rumah ini adalah anak laki laki yang baru berkeluarga dari nasaripe tersebut yang lebih senang berumah sendiri dengan pintu bagian rumah dari bagian tengah muka. Rumah ini agar tampak lebih anggun. Dan jabu sitolumbea tampaknya lebih kukuh.

Ada yang menyatakan rumah ini adalah untuk Raja, dalam arti bukan untuk penguasa melainkan untuk seorang yang penuh tanggung jawab. Karena rumah tersebut adalah bentuk keinginan berdiri sesuai keinginan kebebasan manusia yang dalam hal ini bahwa penghuni Sibaba ni Amporik tetap terikat dalam hubungan kekerabatan Batak Toba di dalam kemandiriannya itu.


Jenis Jabu Si Baba ni Amporik di Lumban Lobu Parik - Kec. Porsea


Pengertian jabu batak memiliki prinsip sesuai dengan fungsi kekerabatan. Dan setiap mendirikan jabu tersebut harus memperhatikan pintu masuk ke rumah dari muka bangunan. Dengan memperhatikan pintu masuk ke rumah maka dengan sendiriannya, bagian belakangsudut kanan tempat upacara menjadi jabu bona dan bagian belakang sudut kiri menjadi jabutampar piring dan bagian muka sudut kiri menjadi jabu suhut serta bagian muka sudut kanan menjadi jabu soding. Termasuk juga harus memperhatikan bagaian telaga dan halangulu.



Huta Batak dalam hubungannya dengan Dalihan Natolu

Kampung atau perkampungan itu adalah tempat tinggal manusia. Tempat tinggal manusia yang terikat dengan wilayah daerah dalam bentuk pemerintahan kecil disebut desa. Maksud huta dalam hal ini adalah tempat tinggal manusia Batak Toba dalam hubungan nya dengan Dalihan Na Tolu dalam perkembangan Batak Toba.

Orang batak yang mengaku dirinya Bangsa Batak pada saat dulu itu tergambar dalam bentuk Huta, yang menjadi wujud bentuk budaya dan adat Batak Toba. Hal tersebut sekaligus menggambarkan nilai budaya yang diciptakan nenek moyang dari Batak dan menjadi sumber adat saat ini.


Rumah yang pertama sekali dibangun adalah Rumah Batak Sitolumbea yang di huni keluarga dasar. Dengan memperhatikan berdirinya tempat tinggal tersebut yang disebut huta dan membandingkan cara cara penataan dalam kehidupan sosial yang berasal dari Rumah Batak Sitolumbea keluarga dasar antara kaitan tempat tinggal yang disebut kampung dengan tata cara mengatur perikehidupan seisi kampung, keseluruhan nya tersirat dalam pengertian huta.

Dalam sebuah huta didalam porlak huta juga terdapat bona ni pinasa. Pengertian Bona ni pasogit dengan bona ni pinasa menjadi tidak dapat dibedakan yaitu bona pasogit bersumber dari kampung halaman dan sama sama mengandung arti tanah air. Di dalam kampung pada umumnya sebelah kanan gerbang di tanam pohon beringin.




Dibawah pohon beringin tersebut ditata sedemikian rupa menjadi tempat duduk, baik dari batu maupun dari tunggul kayu menjadi tempat bersidang penghuni huta yang tempat itu dinamakan Partungkoan.

Dalam sebuah huta terdapat

v Rumah Bolon

v Sopo

v Partungkoan dari pohon beringin

v Bona ni Pinasa yaitu Pohon Nangka

v Losung yaitu tempat menumbuk padi seisi kampung

v Parik ni huta dari Pohon Bambu

v Harbangan, yaitu gerbang pintu masuk ke huta

v Harbangan Pudi, yaitu gerbang masuk keluar dengan tangga untuk seisi kampung saja

v Porlak, yaitu pekarangan masing masing penghuni

v Pargadongan, yaitu perladangan untuk seisi kampung

v Parhaumaan, yaitu sawah seisi kampung

v Parlape-lapean balian ni huta, tempat beristirahat.

ASAL USUL SUKU BATAK

Suku batak adalah salah satu suku bangsa Indonesia, penduduk tertua yang mendiami Sumatera utara dengan wilayah kebudayaan Pakpak Dairi, Tanah Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli tengah dan Tapanuli Selatan terdiri dari enam sub suku yaitu

  • Pakpak Dairi
  • Karo
  • Simalungun
  • Toba
  • Angkola/Sipirok
  • Mandailing



Suku batak adalah termasuk suku Batak Melayu yang berdasarkan teori umum berasal dari Hindia Belakang menyebar ke Nusantara satu rumpun dengan Suku Gayo, Alas, Suku Komering, Suku Lampung, Suku Bugis, dan Suku Batac di Philipina dari rumpun Bontok.

Berdasarkan Buku DALIHAN NATOLU NILAI BUDAYA SUKU BATAK, karangan Drs.DJ. Gultom Rajamarpodang, bahwa dikatakan Suku Batak tersebut berasal dari Timur Tengah yang hijrah ke arah Timur melalui Selatan Persia dan Sempat mendirikan Kerajaan Bhadaga di India Selatan. Karena serbuan Bangsa Arya dari Utara Suku Batak itu meninggalkanIndia Selatan dan ke arah Barat sampai di Madagaskar dan ke arah Timur memasuki Hidia Belakang dan ada pula yang sampai di Pulau Morsa, mendirikan Kerajaan Bhataka, sepanjang Pulau Sumatera, yang lainnya menyusur ke Utara dan menjadi Suku Bugis dan Batac di Philipina.

Suku Batak artinya suku murni atau Suku Asli, telah menganut kepercayaan berKetuhanan Yang Maha Esa yaitu Debata Mulajadi Nabolon dengan wujud pancaran kuasanya Debata Na Tolu yaitu :

· Debata Batara Guru

· Debata Sorisohaliapan

· Debata Balabulan

Merupakan hahomion, habonaran dan hagogoan dari Mulajadi Nabolon.

Berdasarkan Mithologi Siboru Deakparujar sejak perpindahan rumpun Suku Batak ini dari Timur Tengah, sejak Siraja Ihat Manisia sampai dengan Raja Sumahang Doha telah mencapai 87 pemerintahan dimana terakhir ini di taklukkan Rayendra Cola III dari India Selatan tahun 1029. Raja dengan kedua putranya beserta keluarga mengundurkan diri dari pedalam ke Pusuk Buhit di tepi Danau Toba dan menamakan dirinya si Raja Batak serta mengclaim Harajaon Batak lanjutan Kerajaan Haru yang maritim. Inilah permulaan dynasti ke IV dengan nama Raja Buhit Lingga.

Siraja Batak berputera 2 orang yaitu Tateabulan dan Sumba. Tateabulan berputera 5 orang putera dan 4 orang puteri, sedangkan Sumba berputera 3 orang salah satunya adalah Tuan Sorimangaraja yang kawin dengan Siboru Biding Laut dan Siboru Anting Sabungan putri Tateabulan.

Sariburaja putra Tateabulan menimbulkan permasalahan dikalangan keluarga dengan mengawini saudaranya sendiri yaitu Siboru Pareme. Sariburaja dan siboru Pareme melarikan diri dan dari perkawinan mereka lahir Siraja Lontung. Saribu Raja tidak sempat bertemu lagi dengan Siboru Pareme, pergi mengembara dan kawin kembali. Dari perkawinan Sariburaja yang kedua ini melahirkan Siraja Borbor.


Pada mulanya tidak ada masalah antara Siraja Lontung dengan siraja Borbor. Setelah Siraja Borbor mengetahui masalah keluarga dan Siraja Lontung mengawini ibunya sendiri Siboru Pareme, maka Siraja Borbor memihak Limbong Maulana, Sagala Raja dan Malau Raja yang disebut Borbor Marsada bersama sama hendak menyingkirkan Siraja Lontung. Dalam perselisihan itu Tuan Sorimangaraja termasuk keluarga Tateabulan berusaha mendamaikannya.
SOPO GURU TATEA BULAN
KEC. SIANJUR MULA-MULA


Hasil pemufakatan untuk menyelesaikan masalah keluarga Tateabulan yang didasarkan pada kepercayaan Debata Na Tolu, akhirnya Dalihan Natolu itu menjadi ide vital menjadi sumber perilaku Batak Toba, baik dalam kehidupan spiritual maupun duniawi. Sekaligus merupakan prwujudtan moral masyarakat Batak Toba yaitu, manat mardongan tubu, somba marhula hula dan elek marboru.

Ulos Batak - Lestarikan makna dan fungsinya


Pakkeon ma ulos on, asa dilapiki sian ginjang
Disaongi sian toru
Unang ngalian
gabe jala mamora
mambuan goar nauli di luat portibion


Ragi idup na linggom

· Ragi idup si linggom, gorga ni badan antar songon na linggom

· Ragi idup si linggom ndang di pagais gais, jadi ingkon di pesan

· Ulos dipasahat tu anakhon na marpanggkat – na marhuaso; songon pangidoan asa boi marlinggom ( tempat berlindung) angka na ni gomgomanna. Jala suman do on pasahaton molo ro pejabat tinggi tu sada luat.


Mangiring

· Dipasahat tu dakdaknak na baru sorang manang tardidi, manan gabe ulos tali tali dohot sinampe-sampehon.

· Laho Pasahathon huhut marpangidoan : giring giring gostagosta , sai tibu ma hamu mangiring iring huhut mangompa ompa

Mangiring Pinursang

· Dipasahat molo adong na baru sohot, sian partuturon na marsisuharan (kacau), isarana : aturan hula hula gabe pamoruon

· Lao Pasahathon : rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, masijaitan andor ni gadong mambahen tu ramosna ‘ artinya, biarlah partuturron jadi sedikit kacau kalau itu demi kebaikan

· Boi dipakke sitalihononhon manang di sampehon



Sirara (Ragi Hotang)

· Ulos ragi hotang huhut do digoari sirara jala molo tung mansai denggan didok m “potir si na gok”

· Pamakkena :

ü Ulos hela (pengantin) sian natoras

ü Ulos Holong tu pengantin sian na torop

ü Ulos tu na magodang (>= 12 Tahun)

ü Ulos saput tu naung sohot alai ndang mardakdaknak

ü Mangupa tu natua tua (malua sian parmarahan)

ü Mangompoi bagas;sian hula hula tu natua tua na so marpahompu dope

ü Mangokal holi sian hula hula

ü Ulos saput dohot tajung tu na sari matua

ü Hadangan ni hasuhuton naung mardakdaknak / marboru dohot naung marpahompu tikki arsak ni roha

· Umpasa na marhadomuan tu ulos on:

ü Hotang do ragian, hadang hadangan pansalongan; siahaan gabe sianggian, molo hurang sinaloan

ü Hotang binebe-bebe, hotang pinulos pulos; unang iba mandele, ai godang do tudos tudos

ü Tumbur ni pangkat tumbur ni ni hotang; tu si hamu mangalakka sai disi ma hamu dapotan parsaulian

ü Hotang hotari, hotang pulogos;gogo ma hamu mansari asa dao pogos

ü Hotang do bahen hirang, laho mandurung pora pora; sai dao ma nian hamu nasirang, alai lam balga ma holong ni roha

ü Hotang di para para, ijuk diparlabian, sai dao ma nasa mara, jala sai roma parsaulian.


Suri Suri / Togu Togu/ Lobulobu

· Ulos on mardomu do rambuna, jadi gabe hira mandar

· Dipangkehon ulos on di jabu, di pangke holan angka ina, asa tongam berengon

· Godang di baen gabe parompa

· Digoari lobu lobu, asa bongot(lobu) angka na denggan tu bagas ni na mamangke

· Molo adong sada borua mangompa ibotona huhut diendehon : ulos lobulobu marrambu ditonga tonga, tibu ma ho ito doli doli jala mambahen si las ni roha. Molo mangompa borua, didok : ulos lobu lobu marrambu di tonga tonga, sinok ma modom ho, anggi, suman tu boru ni namora

· Dilehon natorasna tu boruna molo leleng ndang mardakdaknak.

Sibolang

· Huhut di goari sibulang, ima na pinasahat tu sasahalak na adong marpahompu sian pambahenan na uli, isarana : ulubalang na patalu musu, na boi pamatehon nagogo ( binatang buas), boru namanghophop hula hulana.

· Ulos saput tu natua tua naso marpahompu, naung marpahompu sian anak manang holan sian boru, saput tu naung marpahompu sian anak songoni sian boru

· Molo dipasahat gabe ulos pansamot, namarlapatan nasumintahon asa natoras nihela gabe sada pangalu aluan ni anakhon, nagogo mansamot jala parpomparan sibulang bulangan dohot pandohan: marasar sihosari di tombak panggulangan, sai halak na gogoma hamu mansari jala parpomparan sibulang bulangan.

· Hadangon ni hasuhuton dohot si solhot di tingki na monding alai di luat na deba

Catatan :

ü Di sipaettua, ulos saput dohot ulos tanjung sian hula hula

ü Diluat na deba : ulos tanjung sian hula hula, ulos saput manang sian tulang ni namonding.


Sadum / Godang

· Ulos sadum manang Ulos godang di tonun di Angkola dohot di Tarutung / silindung

· Ulos on mansai uli, alai derajat na tong do ditoru ni Ragi Idup

· Pamangke na :

ü Ulos na marpangidoan asa godang pasu pasu

ü Ulos holong tu pengantin (somal di silindung)

ü Molo ulos holong tu pomparan ni na saur matua, unsuman dipasahat tu boru/bere

Pinussaan & Ragi Idup

· Sarupa do ulos pinussaan dohot ragi idup. Molo tonunan Toba didik ma Pinussaan alai molo tonunan Tarutung digoari Ragi Idup

· Ulos on marlapatan na mansai arga do ngolu jala mabiar tu hamatean. Ido umbahen gorgani ulos on patuduhon gombaran ni jolma na marhosa, ala ni arga ni ngolu, laos ido mambahen boi bilangan do halak batak mate maningkkot, nangpe ndang mabiar mate molo udan naso hasaongan. Jala halak batak mabiar pogos gabe di haringkothon ma gogo mansari dohot pasingkolahon ianakhonna. Didok : agia pe lapa lapa asal ditoru ni subuan agia pe marlalap asal ma di hangoluan, ai sai na boi do partalaga gabe parjujuon.

· Ragi Idup digoari raja ni Ulos, ala na ulos on ma na tumimbo pamangkena; jadi ndang sumbarangan pamakke na, maol di tonun jala mansai rundut.

· Pamangkena

ü Ulos pansamot tu natoras ni pangoli

ü Ulos pangomgom tu ompung ni pangoli

ü Ulos saput dohot ulos sampetua tu namarpahompu, sarimatua, saurmatua, maulibulung.

Sitolutoho/sitoluntuho

· Gorgana tolu : Mangombarhon dalihan natolu

· Dipasahat dohot tona: manat mardongan tubu(molo naeng sangap,manat mardongan tubu),somba marhula hula ( molo naeng ho gabe somba, somba maho marhula hula), elek marboru ( molo naeng ho mamora, elek ma ho marboru)


Bintang Maratur

· Ulos tu boru na paintehon haroan na uli ( 7 bulanan)

· Dipasahat dohot pandohan:

ü On ma Ulos maratur;siatur maranak, siatur marboru, siatur-hagabeon,siatur hamoraon

ü On ma ulos ni si boru Habonaran, Si Boru Deak Parujar, mula ni panggantion dohot parsorhaon, pargantang-pamonori, na so boi lobi na so boi hurang

· Dipangke : sitalihonon atau sinampe-sampehon


Bolean

· Bolean dipasahat marlapatan mangapuli roha ; membelai belai

· Dipasahat tu dakdaknak naso adong be natorasna, songon pangidoan asa tabah


䮁
javascript:void(0)