Welcome to http://jadimanhutapea.blogspot.com

Laman

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Falsafah Sosial Suku Batak

Merupakan sebuah aspek kehidupan yang penting bagi orang batak, yakni falsafah sosial orang batak. Falsafah yang dimaksud ialah Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat.  Falsafah ini sudah lama ada di kehidupan suku Batak dan merupakan rujukan di dalam aktifitas kemasyaraktan seperti uparaca ada perkawinan, upacara kematian, memasuki rumah, musyawarah dan yang lainnya. Falsafah tersebut sekaligus pedoman dalam bertingkah laku “ adat sopan santun” dalam pergaulan interaksi kekerabatan yang kecil sampai kelompok besar.

Dalihan Na Tolu ( Tungku yang Tiga)
Secara harfiah bermakna “tungku yang tiga”. Diambil dari kebiasaan orang Batak pada masa bersahaja dahulu ketika memasak sesuatu makanan diatas batu yang jumlahnya tiga dan sama sisi. Dalihan Na Tolu pada masyarakat batak adalah asas system kekerabatan dan semua aktifitas.

Dalihan Na Tolu dilatarbelakangi oleh adanya krisis social kekerabatan pada generasi ketiga setelah Si Raja Batak. Peristiwa dimaksud terjadinya marsumbang atau kawin incest antara Tuan Sariburaja dengan saudari kandungnya(iboto) yang bernama si Boru Pareme. Kedua orang tersebut adalah anak dari Tatea Bulan sebagai generasi kedua beserta Raja Isumbaon. Akibat perbuatan itu Sariburaja dikabarkan lari kedalam hutan sementara siboru pareme juga diusir dari kampong Sianjur Mulamula.
Kemudian masa berikutnya, Raja Lontung mengawini ibu kandungnya (siboru Pareme) yang sebelumnya diketahui istri bapaknya sendiri. Akibatnya terjadi perpecahan hubungan kekerabatan seluruh keturunan Tatea Bulan.
Belajar dari perbuatan itu, keturunan Tatea Bulan dan Raja Isumbaon memikirkan suatu norma yang akan mencegah perbuatan memalukan itu. Sejak itu timbullah gagasan suatu konsep dasar aturan tentang batasan hubungan kekerabatan antar keturunan mereka secara lisan yang kemudian disebut Dalihan Na Tolu. 
Semakin bertambahnya penduduk maka semakin terbuka kemungkinan perkawinan antar puak puak yang pada akhirnya masyarakatnya semakin kompleks. Maka dimulailah penggolongan anggota masyarakat dengan kategori Hula hula, Boru, dan dongan sabutuha (teman satu marga).
Pertama, ialah dongan sabutuha yang bermakna lahir dari perut yang sama atau disebut juga dongan tubu(teman satu kelahiran). Makna yang pertama menggambarkan hubungan keluarga yang masih dekat seperti satu ompung (kakek). Makna yang kedua adalah keluarga besar yang satu marga tanpa memandang hubungan silsilah yang dekat.  Fungsi dongan sabutuha dalam system kekerabatan adalah sebagai pendamping dan penolong bagi keluarga yang satu marga apabila ada dari satu marga bertindak sebagai suhut (tuan rumah).
Kedua, ialah hula hula . mereka ini wajib dihormati oleh boru baik dalam hubungan social sehari hari maupun adat, karena status mereka adalah si pemberi istri (wife givers). Golongan didalamnya adalah orangtua perempuan si pemberi istri beserta semua “ dongan sabutuha”-nya.
Ketiga, ialah boru  atau kebalikan dari hula hula. Dalam dalihan na tolu diposisikan sebagai si pengambil istri (wife takers). Fungsi boru boleh dikatakan sebagai kelompok “si loja loja” karena dialah yang bertindak sebagai petugas utama dalam upacara adat perkawinan dan upacara lain. Bahkan lebih dari itu pihak boru harus si penyumbang dana yang terbesar bagi pihak hula hula.
Demikianlah  ketiga komponen itu menyatu dalam Dalihan Natolu diterapkan dalam upacara perkawinan, tata krama pergaulan hidup.  Inti dari falsafah itu adalah : hormat marhula hula (hormat kepada pihak si pemberi istri), elek marboru (pandai membujuk boru) dan manat mardongan tubu (sesama saudara semarga lebih berhati hati).

Suhi Ni Ampang Na Opat
Secara harfiah “Suhi Ni Ampang Na Opat” berarti sudut ampang yang empat. Istilah ini di ambil dari kata ampang yang dalam bahasa Batak bermakna sejenis keranjang yang hamper serupa bentuknya dengan bakul. Ampang ini memiliki empat “suhi”(sudut). Dari ampang yang bersegi empat ini menjadi symbol falsafah “Suhi Ni Ampang Na Opat”. 

Komponennya adalah
·         Hormat marhula hula (hormat kepada si pemberi istri)
·         Elek marboru (bersikap membujuk kepada sipengambil istri)
·       Manat mardongan tubu (hati hati sesama kakak adik atau sesama marga)
·         Hormat mar-raja (hormat kepada raja).

Dalam penerapannya, raja tetap didaulat sebagai orang yang penting dan utama dan bukan diibaratkan seperti sihal-sihal yang sewaktu saja dibutuhkan. Dalam acara, posisi raja disejajarkan dengan hula hula, boru dan dongan sabutuha. Khusus dalam keagamaan, semua yang termasuk pemimpin agama mendapat jambar (bagian tersendiri sebagai penghormatan kepada mereka) 

Sejarah Masuknya Agama Kristen di Tanah Batak

Agama Kristen datang melalui misionaris dari Eropa. Richard Burton, Nathaniel Ward. Dan Evans adalah penyebar pertama yang datang membawa agama Kristen ke Tanah Batak. Mereka bertiga sengaja diutus gereja baptis Inggris sebagai penginjil ke Indonesia khususnya ke Tanah Batak, Sumatera.
Setibanya mereka di Bengkulu pada Tahun 1820, Burton ditempatkan di Sibolga, Evans bertugas di Padang, Sedangkan Ward di Bengkulu. Namun setelah 4 Tahun menginjil disana, mereka bertiga mengalihkan penginjilan kearah Tanah Batak, karena diketahui daerah tersebut sebagaian besar penduduknya masih Kafir atau belum memiliki agama.
Pada Tahun 1924 di Sibolga, mereka mulai penjelajahan penginjilan dengan sasaran utama daerah Danau Toba.  Pada tanggal 4 mei 1824 di daerah Silindung, mereka disambut dengan ramah oleh Raja raja Silindung. Raja menjawab bahwa mereka tidak sanggup meninggalkan tradisi adat yang telah menjadi bagian tubuh selama ini.
Pada Tahun 1834 dua missionaries Amerika Serikat bernama Samuel Muson dan Henry Lyman diutus suatu zending di Boston utk pekabaran injil di tanah Batak. Mereka memasuki SIbolga, lalu kemudian ke Rura Silindung, namun mereka berdua dibunuh dan dagingnya dimakan oleh sekelompok orang Batak. Peristiwa itu terjadi di kawasan Lobu Pining, dekat kampong Adian Hoting ( Tobing, 1956 : 14). Peristiwa itu digambarkan sebagai akibat ketakutan dan kemarahan orang Batak terhadap bahaya yang mengancam kebebasan mereka yang datang dari pihak “sibontar mata” atau orang barat. Meski peristiwa pembunuhan itu tersiar luas ke Eropa, namun para missionaries barat seakan tidak takut untuk mengunjungi tanah Batak.
Holland mengirim Van Asselt untuk bekerja sebagai penginjil di sumatera. Dia tiba di Padang pada bulan Desember 1856, Gubernur Sumatera Barat mempekerjakan nya sebagai pengawas produksi perkebunan kopi milik pemerintah Belanda di Angkola sekaligus untuk misi penginjilannya. Setibanya di sipirok kawasan Angkola, dia menunaikan tugas penginjilan. Inilah usaha pertama kali yang berhasil dilakukan di Tanah Batak. Dengan berbagai usaha Ia berhasil membaptis Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar sebagai orang pertama masuk agama Kristen di Sipirok bahkan diseluruh kawasan Tanah Batak.
Selama rentang empat tahun, para missionaries dari Belanda berdatangan mengikuti jejak Van Asselt seperti Dammerboer bertugas di Hutaimbaru, Van Dalen di Pargarutan dan Betz di Bungabondar yang kesemuanya berada dikawasan Angkola.
Pada 7 oktober 1861 Van Asselt berkumpul bersama missionaries Belanda dirumah Bondanalolot Nasution di Parausorat-Sipirok utk menyambut kedatangan missionaries Jerman dan merencanakan penginjilan di Tanah Batak. Mereka adalah Klammer. Sejak itulah berkesinambungan pengijilan di tanah Batak yang beralih dari missionaries Belanda ke missionaries Jerman. Tanggal itulah yang dijadikan sebagai hari lahirnya Gereja HKBP (Huria Batak Kristen Protestan).

Pekabaran injil (PI) yang paling kuat dan membuahkan hasil adalah usaha yang dilakukan Ludwiq Ingwer Nommensen. Dia  adalah pendeta yang diutus Rheinische Mision Gesellschaft (RMG) suatu organisasi gereja Jerman di kota Bremen. Ia tiba dikota Padang pada tanggal 14 Mei 1862 setelah menempuh perjalanan selama 142 hari dengan kapal Laut. Rencana awal dimulai dari Sipirok dengan misi ke Barus. Pengijilan tersebut terus berkesinambungan  hingga ke daerah Batak Toba, Silindung, Tukka, Bungabondar, Simangambat, Huta Banjar, Sigotom. Ia juga memberikan pengobatan terhadap warga tersebut, mendirikan sekolah di Huta Dame yang selanjutnya dipindahkan ke Pearaja. Hingga kini kampung itu menjadi Pusat administrasi Jemaat HKBP seluruh Indonesia. Hingga dewasa ini daerah Tanah Batak khususnya Batak Toba mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen. (Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)


Kepercayaan Batak Sebelum Lahirnya Agama Malim

Sebelum Agama Islam dan Kristen datang ke tanah batak, orang batak telah mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dinamakan Tuhan Debata Mulajadi Nabolon. Kepercayaan yang demikian diperkirakan telah berlangsung lama yakni sejak dari Siraja Batak. Walaupun pada masa itu masyarakat Batak dapat dikatakan masih dalam keadaan tidak beragama (pagan), namun eluruh kehidupan pribadi dan social orang batak telah diresapi oleh konsep keagamaan.

Paganisme orang batak adalah suatu campuran dari kepercayaan keagamaan kepada Debata, pemujaan yangbersibat animism terhadap roh roh yang sudah meninggal dunia dan dinamisme(Vergouwen, 1986:79).  Disatu sisi pemujaan terhadap Debata diakui sangat menonjol tetapi disisi lain unsure pemujaan roh nenek moyang dan pemujaan terhadap benda yang sudah dianggap memiliki kekuatan yang menyatu bercampur dalam bentuk keagamaannya sehingga batas ketiga unsure tersebut tidak tampak dengan jelas.
Dalam kepercayaan paganisme orang Batak Debata Mulajadi Nabolon merupakan Tuhan  Yang Maha Esa. Dia adalah  maha pencipta dan maha kuasa yang tidak berawal dan tidak berakhir ( Sangti,1978 : 328). Tak satupun manusia yang sanggup memikirkan akan zat dan kewujudannya. Tidak ada sesuatu yang tidak bermula dari padaNya. Dengan sifatnya, dia disebut Ompu Raja Mulamula dan ompu Raja Mulajadi (Hutagalung 1991:2).
Menurut Tobing(1956:27) Debata Mulajadi Nabolon secara fungsional juga mempunyai nama sebutan lain. Sebagai tuhan yang berkuasa di Banua Ginjang (upperworld), di Banua Tonga (middle world), dan tuhan yang berkuasa di banua toru (underworld).
Kendati demikian dalam konsep kesatuan totalitas dari semua kosmos itu Debata Mula Jadi Nabolon dipastikan sebagai tuhan yang menguasai seluruhnya. Disamping kepercayaan kepada Debata Mulajadi Nabolon yang dipercayai sebagai pembantu Debata. Tiga Debata yang dimaksud adalah Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan. Ketiga nama ini tampaknya diambil dari Trimurti Hindu, sedangkan Debata Mulajadi Nabolon mungkin adalah Debata asli orang Batak (Vergouwen, 1986:80).   
(Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)


Kepercayaan Kepada Sahala - Batak

Pengertian Sahala
Sahala mempunyai arti yang sangat luas. Apabila diartikan kedalam bahasa yang hamper tidak ada padanan kata yang cocok dengannya. Meskipun kamus bahasa Batak _ Indonesia mengartikan sahala sebagai kharisma dan wibawa, namun belumlah tepat dengan makna yang sesungguhnya. Vergouewen memaknakan Sahala sebagai daya khusus dari tondi (jiwa). Menurut kepercayaan agama Malim, sahala adalah roh suci yang bersumber dari Debata mulajadi Nabolon yang diturunkan melalui Balabulan kepada seseorang manusia yang terpilih.
Wujud sahala adalah gaib, halus dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan tidak pula diketahui kapan masuk dan hinggap pada diri manusia. Orang yang disebut marsahala dapat terlihat pada kehidupannya sehari hari, dan akan terjadi perubahan pada dirinya terutama dari segi sikap dan perilaku. Ciri lain orang yang marsahala adalah kemampuan pada dirinya untuk memberikan pengobatan pertolongan kepada orang lain. Sahala yang datang itu disebut sahala pangubati. Selain itu ada juga yang disebut sahala pangajari(pengajar), sahala panuturi (penutur) dan sahala panghongkop (jiwa pejuang).
Disisi lain orang yang sudah meninggal dunia boleh jadi akan meningkat menjadi sahala apabila selama hidupnya tergolong orang yang baik dan suci. Roh nya itu bias dipanggil melalui upacara agama disebut mardebata ( menyembah Debata). Kegiatan itu dilakukan dengan memohon kepada pargonsi (juru gendang) untuk membunyikan gendang khusus kepada sahala amang  atau sahala ompu. Sebaliknya orang yang meninggal bergumulan penuh dosa, maka dia setelah mati bukan menjadi sahala melaikan begu.

Sahala Marsangap dan Sahala Martua
Merupakan sebuah nama panggilan terhadap para malim Debata. Yang diutus membawa agama di Tanah Batak. Mereka itu ialah Raja Uti, Simarimbulubosi, Raja na Opatpuluh opat, Raja Sisingamangaraja dan Raja Nasiak Bagi. Panggilan ini muncul kepada mereka karena jasmani (hadirion) mereka tidak tampak lagi dipermukaan bumi ini.
Makna “Sahala Marsangap” secara harfiah adalah tondi yang sangat mulia dan terhormat, sedangkan makna “sahala martua” adalah roh yang  sangat bertuah, bermarwah dan bahagia.

(Sumber : Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)

Raja Sisingamangaraja I - XII

Penyebutan dirinya bernama Sisingamangaraja sebenarnya bukanlah atas kemauan sendiri melainkan karena demikianlah bisikan Debata kepadanya. Itu makna bahwa secara fisik boleh saja dirinya bernama Raja Manghuntal,akan tetapi dari segi rohaniah ia bersama Sisingamangaraja. Dalam kepercayaan agama Malim, Sisingamangaraja disebut juga anak Debata, karena ia dianggap inkarnasi(kesatuan ilahi dengan manusia).
Setelah masyarakat menerima kehadiran Sisingamangaraja pertama sebagai Raja yang resmi di Tanah Batak, beliaulah yang menjalankan Roda kerajaan dan mengayomi masyarakat batak, mengisbatkan adat istiadat, peraturan, hukum dan kerajaan. Selanjutnya setelah beliau wafat kerajaaan dipegang oleh keturunannya secara estafet hingga generasi kedua belas.

Dalam konteks agama malim, roh Sisingamangaraja bukan terbilang banyak, melainkan hanya satu. Sisingamangaraja hanya mempunyai satu sifat dan kepribadian.selain itu perlu dicatat, bahwa pemberian peringkat yang dimulai dari I hingga XII pada nama Sisingamangaraja, sesungguhnya bukanlah pemberian dari keluarganya, melainkan penamaan yang diberi oleh Belanda pada masa penjajahan dengan maksud utk memudahkan orang mengingat penggalan sejarah.
Perkiraan Tahun Kelahiran Sisingamangaraja I – XII
No
Nama Asli
Nama Malim
Tahun Lahir
1
Raja Manghuntal
Sisingamangaraja I
1515 M
2
Raja Tinaruan
Sisingamangaraja II
1545 M
3
Raja Itubungna
Sisingamangaraja III
1575 M
4
Sori Mangaraja
Sisingamangaraja IV
1605 M
5
Ampallongos
Sisingamangaraja V
1635 M
6
Ampanggulbuk
Sisingamangaraja VI
1665 M
7
Ompu Tuan Lombut
Sisingamangaraja VII
1695 M
8
Ompu Sotaronggal
Sisingamangaraja VIII
1725 M
9
Ompu Sohalompoan
Sisingamangaraja IX
1755 M
10
Ompu Tuan Nabolon
Sisingamangaraja X
1785 M
11
Ompu Sohahuaon
Sisingamangaraja XI
1815 M
12
Patuan Bosar Ompu Pula Batu
Sisingamangaraja XII
1845 M
Sumber : Batara Sangti, 1978 : 22

Bagi orang batak dahulu Sisingamangaraja dinamakan “ Debata na tarida sombaon na binoto “ (Debata yang tampak dan objek sembahan yang diketahui). Selaian itu Sisingamangaraja disebut sebagai orang yang sudah tujuh kali malim dan tujuh kali solam ( tujuh kali suci dan tujuh kali takwa) suatu sebutan peringkat tertinggi dalam kesucian (malim) dan kesalehan/ketakwaan (solam). (Sumber :Agama Malim di Tanah Batak : Ibrahim Gultom)

Panatapan Huta Ginjang - Muara

Menjadi Salah satu daerah kunjungan wisata di sumatera utara, Danau toba, Tapanuli Utara, Muara- Hutaginjang. Penduduk setempat menyebut nama ini adalah Panatapan Huta Ginjang,  Panatapan artinya memandang, jadi para pengunjung akan memandang alam danau toba dari tempat ini. Panorama Alam hutaginjang tersebut terletak di Kecamatan muara, Kabupaten Tapanuli Utara dengan ketinggian 1.550 dpl. 
Tempat ini menjadi kunjungan yang ramai pada hari libur oleh wisatawan local maupun non local. Disana tersedia juga tempat /pondok untuk bersantai bersama sambil memandang pada langit biru, danau toba, dengan disekeliling perbukitan yang hijau.
Memandang dari tempat ini yang nampak bukan hanya danau saja, namun nampak juga petakan sawah para petani dan kaki-kaki bukit yang nampak berdiri tegak dari waktu-kewaktu. Sebagai souvenir anda bias mendapatkan souvenir seperti kaos, ukiran, dan berbagai seni lainnya yang tentunya dengan tulisan Panorama Alam HutaGinjang.


 Radio Anugerah - Muara
 Bandra Udara Silangit

Teknologi Robot Sigale - Gale Lestarikan Budaya !!!


Saat ini, manusia tidak dapat melepaskan diri dari kebutuhan akan teknologi. Namun, di saat yang sama, kebudayaan dan tradisi masa lalu harus terus terjaga sebagai sebuah identitas diri.

Melihat hal tersebut, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memadukan seni tradisional Tanah Air dalam kontes robot yang sarat inovasi di bidang teknologi. Mereka adalah Crisman Wise PS dan Deni K Sihombing yang menciptakan sebuah robot yang mampu menari tor-tor, seni budaya asal Sumatera Utara.Berbalut kain ulos, robot Si Gale-Gale mampu menari dengan dengan luwes sesuai dengan tempo lagu yang diputar. Bahkan, untuk mengaktivasinya cukup menepukkan tangan karena robot ini dilengkapi dengan sensor bunyi.

Robot ini terkesan tradisional, Mengenakan ulos yang merupakan kain tradisional khas suku Batak, Sumatra Utara, dan yang unik, Si Gale-gale bisa melakukan gerakan gerakan tarian Tor-tor mengikuti iringan musik yang diperdengarkan.

Kesempatan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi batak toba dengan kekayaan seninya.

Dengan Menggunakan sensor bunyi yang dimilikinya, , Si Gale-gale bisa menggerakkan kedua tangannya meniru gerakan tari tor-tor. Si Gale-gale pun dilengkapi dengan 21 actuator sehingga gerakannya diklaim menjadi lebih gesit. Gerakan tarinya pun sesuai dengan tempo dan irama dari musik pengiringnya.

Si Gale-Gale masuk dalam kategori robot Indonesiana. Diharapkan, ke depannya akan muncul robot lain yang menjadi pelestari budaya Indonesia. Robot ini pun berhasil meraih Technical Award.

Selain Si Gale-gale, ada juga Inxscopoda, sebuah robot pelacak telecontrolled berbasis Android yang mampu menjelajah, mencari informasi tentang kondisi suhu, kelembaban dan visualisasi daerah berbahaya tanpa harus mempertaruhkan keselamatan tim penyelamat bencana.

Museum Batak Balige

Mengujungi Bona Pasogit, tentang hidup dan kehidupannya tidak lepas dari aktifitas kekayaan budaya batak sebagai landasan hidup moral yang berkelanjutan. Dengan segala kekayaan culture, aksesoris, tools dan perangkat pendukungnya. Demikian dengan segala kekayaan turunan seperti ulos, pakaian adat, gorga batak, patung sigale gale, losung, miniature sopo dan rumah batak dan keragaman peninggalan perangkat lainnya.

Kesemuanya tentang hal itu dijadikan sebagai koleksi artefak yang indah dan terklarifikasi tentang fungsi dan tujuan semua tools budaya batak. Dapat kita lihat dan temukan langsung di Museum Batak Nasional di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Lokasi Museum Batak yang terletak di Komplek TB Silalahi Center di Desa Soposurung Balige ini menyimpan dan mempamerkan enam suku peninggalan sejarah seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Angkola, Batak Simalungun, dan Batak Karo.

Eksterior Museum Batak Balige



Gedung yang diresmikan 18 Januati 2011 itu, dikonsep tradisional dengan ukuran gorga batak dengan modernisasi interior futuristic untuk mengimbangi kesan kuno namun tampil megah dengan modern design.

Harapannya adalah dengan adanya Museum Batak tersebut memberi citra yang baik pagi pribadi secara personal tentang kekayaan akal budi dan seni sekaligus menjadi terobosan untuk kita melestarikan kekayaan budaya dan sejarah suku batak. Bukan hanya sekedar pajangan, namun mendapat pesan dari setiap peninggalan citra seni batak.


Tortor Hasunduton

Tortor ini mengambil tuah gendang terdiri dari tingkat kekerabatan suhut dan suhu ni ampang na opat keluarga.

Gendang pertama disebut gondang Mulajadi, gondang Mula Tompa. Sikap hasuhuton pada tortor ini adalah menyembah kepada Mulajadi Nabolon dan dalam hal penganut Agama Kristen adalah mendoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud tortor menyembah diatas kepala.

Gendang kedua disebut gondang mula mula dimana tortor adalah menyembah berputar ditempat ke arah mata angin desa na ualu, dengan maksud bahwa setiap pekerjaan ada mulanya dan permulaan itu diharap baik baik dan agar mendapat mula yang baik

Gendang ketiga adalah gondang somba somba dalam wujud sikap tortor tangan menyembah minta izin dan restu dari khalayak ramai mereka diperkenankan melaksanakan acara itu



Gendang keempat adalah gondang sampur mareme, dalam sikap tortor mula mula menyembah, kemudian dapat dilanjutkan dengan sikap tangan menari dengan maksud agar tuah dari orang tua mereka, termasuk petuah petuah dan amanatnya serta petunjuk roh suci menjadi hidup mereka dan menjadi kesejahteraan keluarga.

Gendang Kelima adalah gondang Liat Liat dalam wujud tortor menari berkeliling menurut lingkaran dengan makna agar hasuhuton, dan semua yang terlibat dalam upacara mendapat restu.

Gendang ke enam adalah gondang hasahatan wujud tortor menari di tempat dengan maksud apabila acara ini sudah selesai dilaksanakan agar tuah setelah melakukan upacara itu.

Gendang ketujuh adalah gondang sitio tio wujud tortor dengan sikap ulos menyambut tuah agar akibat dari pelaksanaan upacara membawa tuah kesejahteraan dan kejernihan bagi keluarga dan semua yang terlibat dalam acara.

Marlapo Tuak


Pemuda maupun orang tua sering minum minuman itu, salah satu jenis minuman beralkohol di kampung tanah Batak Toba. Petani yang habis pulang dari ladang sawah maupun dari Tao Toba tak heran, usai marulaon langsung pergi ke lapo tuak, tempat partungkoan orang orang batak khususnya pada kaum lelaki.

Memang kurang rasanya jika seusai kerja dan sudah badan pegal pegal tanpa meminum tuak tersebut. Banyak orang menyebut nya aek si paulak gogo, hua ni tano. Karena memang jika minum tuak tersebut pikiran serasa melayang, pikiran yang terbeban serasa jadi ringan dan teratasi. Masalah nya itu hanya hal itu sudah wajar karena sudah mengandung alkohol.

Lokasi Marlapo di cafe Terafung - Balige

Disisi budaya, ini menjadi nilai budaya batak Toba yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan. Di gelar juga acara minum tuak di setiap upacara batak, baik itu mangoli, ulaon na monding, maupun ari pesta. Hal itu tidak lepas dari para pemuda dengan kebiasaan nya marlapo Tuak sambil memainkan gitar dan melagukan nada nada lagu batak. Jika mengingat hal itu, memang itu lah salah satu culture budaya batak.

Lokasi Marlapo di Silaen

Berpikir secara positif, minum tuak membuat kita marsaor dengan dongan tubu, mempererat kekerabatan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Tidak tertutup kemungkinan, marlapo tuak juga membiasakan kita untuk berinteraksi dengan dunia budaya batak itu sendiri. Sekilas memang tidak bermanfaat, namun tergantung pikiran kita yang menyikapi sudut pandang sendiri tentang marlapo tuak.

Nilai Budaya Batak Toba

Kebudayaan adalah segenap perwujutan dan keseluruhan hasil pemikiran (logika), perasaan (estetika) dan kemauan (etika) sebagai buah usaha budi dalam mengelola cipta, rasa dan karsa untuk mewujudkan karya budaya dan interaksi budaya sipiritual dan produk budaya yang bersifat material. Menurut para ahli bahwa setiap kebudayaan itu pada umumnya paling sedikit terdiri dari tiga wujud yaitu : pertama wujud kebudayaan suatu himpunan gagasan gagasan yang sering disebut kompleks gagasan .kedua, wujud sebagai jumlah perilaku yang berpola yang di sebut kompleks aktifitas. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai kumpulan benda dan arti paks yang disebut karya budaya.

Patung Sigale gale wujud karya budaya Batak Toba

Wujud Kebudayaan sebagai kompleks gagasan

Merupakan konsep pemikiran manusia. Sebagai kompleks gagasan, kebudayaan adalah bersifat abstraks tidak dapat dilihat, didengar atau diraba. Wujud ini disebut sistem budaya. Sistem budaya adalah rangkaian proses gagasan atau rangkaian proses pandangan yang paling berharga dan bernilai dalam hidup manusia.

Gagasan itu mencakup bagaimana pandangan manusia mengenai alam, terhadap sesama manusia, tentang pengetahuan dan pekerjaan, tentang ketuhanan, pandangan manusia tentang ‘waktu’. Berkat nilai budaya itulah maka manusia berbuat untuk kehidupannya, baik dalam hubungan ketuhanan, kemanusiaan maupun untuk berkarya.

Wujud kebudayaan sebagai Kompleks Aktifitas

Adalah interaksi manusia yang timbul berkat nilai budaya yang dihayatinya untuk menghadapi lingkungannya, yaitu wujud nilai budaya yang timbul dalam bentuk sosial. Sistem sosial adalah sistem yang menata hubungan manusia dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan alam,sesama manusia, mendorong aktifitas untuk berkarya guna kebutuhan sosialnya.

Termasuk didalamnya sistem kekerabatan, panggilan kekerabatan dan sopan santun kekerabatan akan dapat diketahui dari sistem sosialnya. Jadi nilai budaya, sistem sosial dan karya budaya suatu suku bangsa adalah merupakan satu kesatuan.

Aksesories di galery souvenir TB Silalahi Center Balige
menjadi salah satu item budaya Batak Toba


Wujud kebudayaan sebagai kumpulan benda.

Disebut aset budaya yag tumbuh dari kompleks aktifitas demi kebutuhan sosial, baik kebutuhan spiritual mendorong manusia untuk berkarya atau berbuat. Hasil kerja demikian disebut karya budaya, berwujud konkrit dan nyata disebut dengan istilah phisical culture. Karya budaya itu tumbuh dari sistem sosial.

Para ahli telah sependapat bahwa unsur kebudayaan materi itu adalah kebutuhan sosial antara lain tentang sistem masyarakat, bahasa, sistem ekonomu, pengetahuan, kesenian dan religi. Maksudnya adalah bahwa seseorang akan berbuat demi kemasyrakatan, berkomunikasi dengan bahasa, meningkatkan ilmu demi kesejahteraan, teknologi demi memajukan teknologi bermoral demi kebutuhan spiritual.

DALIHAN NATOLU - NILAI BUDAYA - SUKU BATAK

Dalihan artinya tungku yang dibuat dari batu. Na artinya yang, tolu artinya tiga. Jadi arti dalihan natolu adalah tiga tiang tungku. Ketiga dalihan/tungku yang ditanam berdekatan berfungsi sebagai tungku tempat alat masak yang dijerangkan. Besar dalihan harus dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain, dan tingginya harus sama dan harmonis.

Dalihan natolu bukan sekedar tungku nan tiga prasarana memasak, tetapi menyangkut seluruh kehidupan yang bersumber dari dapur. Istilah dalihan bagi sub sub Suku Batak tidak sama tapi prinsipnya adalah sama. Misal Batak Karo dan Batak Pakpak Dairi adalah daliken, sedang batak Toba, Batak Simalungun dan Angkola Padang Lawas, Sipirok-Mandailing istilahnya adalahdalihan.

Masing masing dalihan berdiri sendiri dan ditata agar tetap harmonis. Demikianlah keadaan kekerabatan Suku Batak dan pandangan hidup nya, bahwa suhut, hula hula dan boru masing masing mempunyai pribadi dan harga diri tahu akan hak dan kewajiban sebagai pelaksana tanggung jawab. Peranan marga dalam menentukan tempat dan kedudukan sangat penting dalam pertalian Dalihan Natolu. Pertalian apa yang ada antara seseorang dengan pusat kejadian.

Orang mengambil satu rumusan hikmat hubungan

  • Hendaknya setiap hula hula elek marboru maksudnya agar hula hula selalu menjaga sikap membujuk sayang terhadap boru, karena borulah sebagian dari penanggung jawab kegiatan. Walaupun boru itu selalu dibujuk sayang oleh hula hula, bukan berarti supaya boru itu manja.
  • Sebab itu setiap boru dalam hikmat nya harus somba marhula hula, maksudnya adalah agar setiap boru hendaklah bersikap sembah atau hormat kepada hula hula.
  • Sedang pusat kejadian yaitu suhut dengan kawan semarga nya disebut sabutuha hendaklah bersikap manat mardongan tubu , maksudnya agar sesama marga hendaklah bersikap prihatin dan hati hati.

Demikian hubungan hikmat ini dengan keadaan agar segala sesuatu kegiatan dapat dilaksanakan dengan sempurna. Hikmat kewajiban seperti inilah yang perlu di tata agar harmonis dalam kekerabatan, sebagai mana tiang tungku tiga yang diletakkan harmonis satu sama yang lain.

Ketiga unsur yang berdiri sendiri tidak akan ada arti, tetapi harus kerja sama satu sama yang lain baru menghasilkan manfaat yang tanjam. Unsur pertama adalah suhut dengan saudara lelaki disebut dongan sabutuha. Unsur kedua adalah saudara suhut yang perempuan dengan suaminya disebut boru, dan unsur yang ketiga saudara lelaki dari isteri suhut disebut hula-hula.

Ruma Ijuk Ruma Gorga

Ruma ijuk ruma gorga dalam arti harfiahnya adalah rumah beratap ijuk dan mempunyai gorga. Dalam penghidupan sehari hari artinya adakah nabisuk jala na malo marroha. Nabisuk artinya penuh bijaksana, na malo marroha artinya cerdik dan pandai serta diplomat.


Demikianlah kepada seorang yang telah mendapat pendidikan dan pengajaran pertama dari dalam rumah seperti yang di jelaskan dimuka, apabila seorang yang keluar dari rumah melalui tangga maka ia harus menjadi Ruma Ijuk, Ruma Gorga simbol dari Nabisuk jala Namalo Marroha. Ruma di Uhum Manotari di Adat yang artinya bahwa rumah itu adalah tempat belajar hukum atau aturan dan menjiwai adat dari Nilai Dalihan Natolu.


Seseorang yang dikatakan dewasa pada Batak Toba, apabila seseorang itu telah dapat bertanggung jawab atas aturan dan Adat Batak, penuh bijaksana, cerdik dan pandai serta bersifat diplomat.

ASAL USUL SUKU BATAK

Suku batak adalah salah satu suku bangsa Indonesia, penduduk tertua yang mendiami Sumatera utara dengan wilayah kebudayaan Pakpak Dairi, Tanah Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli tengah dan Tapanuli Selatan terdiri dari enam sub suku yaitu

  • Pakpak Dairi
  • Karo
  • Simalungun
  • Toba
  • Angkola/Sipirok
  • Mandailing



Suku batak adalah termasuk suku Batak Melayu yang berdasarkan teori umum berasal dari Hindia Belakang menyebar ke Nusantara satu rumpun dengan Suku Gayo, Alas, Suku Komering, Suku Lampung, Suku Bugis, dan Suku Batac di Philipina dari rumpun Bontok.

Berdasarkan Buku DALIHAN NATOLU NILAI BUDAYA SUKU BATAK, karangan Drs.DJ. Gultom Rajamarpodang, bahwa dikatakan Suku Batak tersebut berasal dari Timur Tengah yang hijrah ke arah Timur melalui Selatan Persia dan Sempat mendirikan Kerajaan Bhadaga di India Selatan. Karena serbuan Bangsa Arya dari Utara Suku Batak itu meninggalkanIndia Selatan dan ke arah Barat sampai di Madagaskar dan ke arah Timur memasuki Hidia Belakang dan ada pula yang sampai di Pulau Morsa, mendirikan Kerajaan Bhataka, sepanjang Pulau Sumatera, yang lainnya menyusur ke Utara dan menjadi Suku Bugis dan Batac di Philipina.

Suku Batak artinya suku murni atau Suku Asli, telah menganut kepercayaan berKetuhanan Yang Maha Esa yaitu Debata Mulajadi Nabolon dengan wujud pancaran kuasanya Debata Na Tolu yaitu :

· Debata Batara Guru

· Debata Sorisohaliapan

· Debata Balabulan

Merupakan hahomion, habonaran dan hagogoan dari Mulajadi Nabolon.

Berdasarkan Mithologi Siboru Deakparujar sejak perpindahan rumpun Suku Batak ini dari Timur Tengah, sejak Siraja Ihat Manisia sampai dengan Raja Sumahang Doha telah mencapai 87 pemerintahan dimana terakhir ini di taklukkan Rayendra Cola III dari India Selatan tahun 1029. Raja dengan kedua putranya beserta keluarga mengundurkan diri dari pedalam ke Pusuk Buhit di tepi Danau Toba dan menamakan dirinya si Raja Batak serta mengclaim Harajaon Batak lanjutan Kerajaan Haru yang maritim. Inilah permulaan dynasti ke IV dengan nama Raja Buhit Lingga.

Siraja Batak berputera 2 orang yaitu Tateabulan dan Sumba. Tateabulan berputera 5 orang putera dan 4 orang puteri, sedangkan Sumba berputera 3 orang salah satunya adalah Tuan Sorimangaraja yang kawin dengan Siboru Biding Laut dan Siboru Anting Sabungan putri Tateabulan.

Sariburaja putra Tateabulan menimbulkan permasalahan dikalangan keluarga dengan mengawini saudaranya sendiri yaitu Siboru Pareme. Sariburaja dan siboru Pareme melarikan diri dan dari perkawinan mereka lahir Siraja Lontung. Saribu Raja tidak sempat bertemu lagi dengan Siboru Pareme, pergi mengembara dan kawin kembali. Dari perkawinan Sariburaja yang kedua ini melahirkan Siraja Borbor.


Pada mulanya tidak ada masalah antara Siraja Lontung dengan siraja Borbor. Setelah Siraja Borbor mengetahui masalah keluarga dan Siraja Lontung mengawini ibunya sendiri Siboru Pareme, maka Siraja Borbor memihak Limbong Maulana, Sagala Raja dan Malau Raja yang disebut Borbor Marsada bersama sama hendak menyingkirkan Siraja Lontung. Dalam perselisihan itu Tuan Sorimangaraja termasuk keluarga Tateabulan berusaha mendamaikannya.
SOPO GURU TATEA BULAN
KEC. SIANJUR MULA-MULA


Hasil pemufakatan untuk menyelesaikan masalah keluarga Tateabulan yang didasarkan pada kepercayaan Debata Na Tolu, akhirnya Dalihan Natolu itu menjadi ide vital menjadi sumber perilaku Batak Toba, baik dalam kehidupan spiritual maupun duniawi. Sekaligus merupakan prwujudtan moral masyarakat Batak Toba yaitu, manat mardongan tubu, somba marhula hula dan elek marboru.

javascript:void(0)