Welcome to http://jadimanhutapea.blogspot.com

Laman

Tampilkan postingan dengan label Toba Samosir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toba Samosir. Tampilkan semua postingan

Teknologi Robot Sigale - Gale Lestarikan Budaya !!!


Saat ini, manusia tidak dapat melepaskan diri dari kebutuhan akan teknologi. Namun, di saat yang sama, kebudayaan dan tradisi masa lalu harus terus terjaga sebagai sebuah identitas diri.

Melihat hal tersebut, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memadukan seni tradisional Tanah Air dalam kontes robot yang sarat inovasi di bidang teknologi. Mereka adalah Crisman Wise PS dan Deni K Sihombing yang menciptakan sebuah robot yang mampu menari tor-tor, seni budaya asal Sumatera Utara.Berbalut kain ulos, robot Si Gale-Gale mampu menari dengan dengan luwes sesuai dengan tempo lagu yang diputar. Bahkan, untuk mengaktivasinya cukup menepukkan tangan karena robot ini dilengkapi dengan sensor bunyi.

Robot ini terkesan tradisional, Mengenakan ulos yang merupakan kain tradisional khas suku Batak, Sumatra Utara, dan yang unik, Si Gale-gale bisa melakukan gerakan gerakan tarian Tor-tor mengikuti iringan musik yang diperdengarkan.

Kesempatan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi batak toba dengan kekayaan seninya.

Dengan Menggunakan sensor bunyi yang dimilikinya, , Si Gale-gale bisa menggerakkan kedua tangannya meniru gerakan tari tor-tor. Si Gale-gale pun dilengkapi dengan 21 actuator sehingga gerakannya diklaim menjadi lebih gesit. Gerakan tarinya pun sesuai dengan tempo dan irama dari musik pengiringnya.

Si Gale-Gale masuk dalam kategori robot Indonesiana. Diharapkan, ke depannya akan muncul robot lain yang menjadi pelestari budaya Indonesia. Robot ini pun berhasil meraih Technical Award.

Selain Si Gale-gale, ada juga Inxscopoda, sebuah robot pelacak telecontrolled berbasis Android yang mampu menjelajah, mencari informasi tentang kondisi suhu, kelembaban dan visualisasi daerah berbahaya tanpa harus mempertaruhkan keselamatan tim penyelamat bencana.

Mual Peninggalan Raja Sisingamangaraja XII


Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII memiliki banyak peninggalan yang cukup bermanfaat dirasakan keberadaannya sampai saat ini, salahsatunya peninggalannya adalah mual / Sumur. Raja Sisingamangaraja XII sebagai salah seorang pejuang bangsa batak, meninggalkan banyak mual ataupun yang lebih dikenal dengan Sumur. Aek tersebut kadang disebut taor mual sipangolu atau kadang masyarakat menyebutnya “Mual Sipaulak Hosa” digunakan sebagai sumber air minum sebagai pelepas dahaga selama perjuangan melawan Belanda.

Dan Mual mual peninggalan Raja Sisingamangaraja XII masih banyak kita temukan di berbagai tempat, salah satunya di daerah Toba Samosir. Dan hingga saat ini Mual tersebut banyak dikunjungi orang orang yang menyakini akan khasiat dari air mual ini selain untuk mandi dan membawanya pulang sebagai air minum dan mungkin hingga obat. Memang harus diakui, air mual ini sangat sejuk dan juga sangat jernih. Karena faktanya jika datang dan memandikan airnya, setelah kita selesai mandi ,akan merasa segar dan sepertinya badan akan terasa ringan.

Mual peninggalan raja sisingamangaraja XII tersebar di beberapa lokasi di daerah kabupaten Toba Samosir seperti

· Mual di Kompleks Perkantoran Bupati Toba Samosir

· Mual di puncak Dolok Tolong daerah Tampahan Kecamatan Tampahan

· Mual di daerah Simare Kecamatan Habinsaran

· Mual di daerah Hutanamora Kecamatan Lumban Julu

· Mual Sipaulak Hosa di daerah Sibodiala Desa Pagarbatu Dolok Kecamatan Balige

· Mual Siguti Desa Lumban Gorat Balige Kecamatan Balige

· Taor Mual Sipangolu di daerah Sibarani Nasampulu Kecamatan Laguboti

Mual Lokasi Sibarani - Laguboti


Mual Lokasi Dolok Tolong - Balige
Mual Lokasi Kompleks Kantor Bupati Toba Samosir
Mual Lokasi Sibarani - Laguboti

Tao Lumban Binanga - Laguboti

Panorama alam sekitar pesisir Danau Toba, tepatnya di Desa Lumban Binanga Laguboti , Toba Samosir, Sumatera Utara. Tempat yang menjadi salah satu tujuan kunjungan wisata di daerah kecamatan laguboti itu, sudah mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal. Hal itu terlihat dengan ramainya pengunjung pada saat minggu sore di lokasi tersebut. Disana juga sudah terdapat fasilitas penginapan / hotel maupun café untuk melengkapkan kunjungan wisata kita.

Selain kawasan pesisir danau yang langsung bergandengan dengan pasir yang kelihatan putih, tampaknya mendukung situasi untuk tidak melepaskan kesempatan untuk berenang di tempat tersebut. Harapannya semoga daerah pesisir danau toba di Lumban Binanga tetap mendapat perhatian penuh dari pihak masyarakat setempat maupun pemerintah untuk tetap lestari.


Panorama Alam Tao Lumban Binanga

Museum Batak Balige

Mengujungi Bona Pasogit, tentang hidup dan kehidupannya tidak lepas dari aktifitas kekayaan budaya batak sebagai landasan hidup moral yang berkelanjutan. Dengan segala kekayaan culture, aksesoris, tools dan perangkat pendukungnya. Demikian dengan segala kekayaan turunan seperti ulos, pakaian adat, gorga batak, patung sigale gale, losung, miniature sopo dan rumah batak dan keragaman peninggalan perangkat lainnya.

Kesemuanya tentang hal itu dijadikan sebagai koleksi artefak yang indah dan terklarifikasi tentang fungsi dan tujuan semua tools budaya batak. Dapat kita lihat dan temukan langsung di Museum Batak Nasional di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Lokasi Museum Batak yang terletak di Komplek TB Silalahi Center di Desa Soposurung Balige ini menyimpan dan mempamerkan enam suku peninggalan sejarah seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Angkola, Batak Simalungun, dan Batak Karo.

Eksterior Museum Batak Balige



Gedung yang diresmikan 18 Januati 2011 itu, dikonsep tradisional dengan ukuran gorga batak dengan modernisasi interior futuristic untuk mengimbangi kesan kuno namun tampil megah dengan modern design.

Harapannya adalah dengan adanya Museum Batak tersebut memberi citra yang baik pagi pribadi secara personal tentang kekayaan akal budi dan seni sekaligus menjadi terobosan untuk kita melestarikan kekayaan budaya dan sejarah suku batak. Bukan hanya sekedar pajangan, namun mendapat pesan dari setiap peninggalan citra seni batak.


Marlapo Tuak


Pemuda maupun orang tua sering minum minuman itu, salah satu jenis minuman beralkohol di kampung tanah Batak Toba. Petani yang habis pulang dari ladang sawah maupun dari Tao Toba tak heran, usai marulaon langsung pergi ke lapo tuak, tempat partungkoan orang orang batak khususnya pada kaum lelaki.

Memang kurang rasanya jika seusai kerja dan sudah badan pegal pegal tanpa meminum tuak tersebut. Banyak orang menyebut nya aek si paulak gogo, hua ni tano. Karena memang jika minum tuak tersebut pikiran serasa melayang, pikiran yang terbeban serasa jadi ringan dan teratasi. Masalah nya itu hanya hal itu sudah wajar karena sudah mengandung alkohol.

Lokasi Marlapo di cafe Terafung - Balige

Disisi budaya, ini menjadi nilai budaya batak Toba yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan. Di gelar juga acara minum tuak di setiap upacara batak, baik itu mangoli, ulaon na monding, maupun ari pesta. Hal itu tidak lepas dari para pemuda dengan kebiasaan nya marlapo Tuak sambil memainkan gitar dan melagukan nada nada lagu batak. Jika mengingat hal itu, memang itu lah salah satu culture budaya batak.

Lokasi Marlapo di Silaen

Berpikir secara positif, minum tuak membuat kita marsaor dengan dongan tubu, mempererat kekerabatan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Tidak tertutup kemungkinan, marlapo tuak juga membiasakan kita untuk berinteraksi dengan dunia budaya batak itu sendiri. Sekilas memang tidak bermanfaat, namun tergantung pikiran kita yang menyikapi sudut pandang sendiri tentang marlapo tuak.

Upacara Ritual Parmalim - Laguboti - Toba Samosir

Marari Sabtu,

yaitu pada setiap hari Sabtu atau Samisara seluruh umat Parmalim berkumpul di tempat yang sudah yang sudah ditentukan baik si Bale Partonggoan, Bale Pasogit di pusat maupun di rumah parsantian di cabang/daerah untuk melakukan sembah dan puji kepada Mulajadi Nabolon dan pada kesempatan itu para anggota diberi poda atau bimbingan agar lebih tekun berprilaku menghayati Ugamonya.

Martutuaek,

yaitu upacara yang dilakukan dirumah umat yang mendapat karunia kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Anak yang baru lahir sebelum dibawa berpergian kemana mana harus lebih dahulu diperkenalkan dengan bumi terutama air untuk membersihkan dan ini dilaksanakan untuk membawa anak tersebut ke umbul mata air disertai bara api tempat membakar dupa. Kemudian baru dibawa ke dunia baru yaitu pasar dan diberi buah buahan manis perlambang hari kedepan yang makin manis. Setelah dirumah dilanjutkan lagi dengan upacara, bergantung kepada kemampuan keluarga tersebut. Pada saat pulang dari pasar tadi,siapa saja diinginkan oleh keluarga si anak meminta buah buahan bawaan si anak tadi sebagai perlambang bahwa si anak kelak akan bersifat maduma.

Mardebata,

Yaitu upacara yang sifatnya individual dimana seorang melaksanakan upacara sendiri tanpa melibatkan orang lain. Ritus ini sendiri mempunyai tujuan ganda yaitu meminta keampunan dosa atau menebus dosa dan syukuran. Seseorang yang merasa menyimpang dari aturan patik perlu menyelenggarakan pardebataon sebagai sarana untuk menebus dosanya. Bagi orang lain pardebataon itu mungkin pula untuk mewujudkan kaulnya. Jika upacaranya dibuat besar besaran misalnya untuk mewujudkan niatnya harus dengan menyajikan sesaji secukupnya dan boleh juga dihantar gendang sabangunan serta di atur oleh tata upacara resmi sesuai dengan tata upacara dari Ihutan atau dari Uluan.

Pasahat Tondi

Upacara kematian dibagi dalam dua tahap. Pertama adalah pengurusan jenazah menjelang pemakaman, kedua adalah pasahat tondi. Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan upacara doa “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”

Setelah pemakaman,dilanjutkan dengan upacara pasahat tondi yaitu upacara mengantar roh dalam arti harfiah. Tuhan menciptakan manusia atas dua bagian yaitu badan dan roh (pamatang dohot tondi). Apabila badan mati, roh tidak ikut mati, Ia kembali kepada penciptanya, sesuai dengan pandangan Ketuhanan Parmalim, bahwa :”ngolu dohot hamatean huaso ni Debata”.

Mangan Napaet

Adalah upacara atau berpuasa untuk menebus dosa dilaksanakan selama 24 jam penuh pada setiap penghujung tahun kalender Batak yaitu pada ari hurung bulan hurung. Upacara ini bersifat umum dilaksanakan di setiap cabang. Perangkat dasar upacara ini selain pangurason dan pardupaon yang terpenting ialah mangan napaet, diramu dari beberapa jenis buah dan daun yang pahit seperti daun pepaya, buah ingkir,babal,cabe rawit, jeruk bali muda dan garam.

Mangan napaet merupakan pengabdian warga parmalim kepada Raja Nasiakbagi yang menderita untuk manusia. Selain itu merupakan simbol dari kehidupan yang pahit kepada kehidupan yang manis. Dan juga arti mangan napaet akan di akhiri dengan mangan natonggidan inilah permulaan hidup perilaku baru untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari. Setelah mangan napaet maka dilaksanakan pula upacara persembahan kambing putih kepada Mulajadi Nabolon.

Upacara Sipaha Sada

Adalah merupakan upacara yang paling hikmat dan mengandung nilai religius yang paling dalam, bagi umat Parmalim. Pelaksanaan upacara ini disambut gembira karena sehari sebelumnya Parmalim baru saja selesai mengadakan upacara mangan napaet yaitu suatu acara pembebasan manusia dari dosa. Upacara sipaha sada adalah penyambutan datangnya tahun baru Ugamo Malim atau acara pergantian tahun sekaligus dinamakan Tahun Baru Batak.

Hari pertama sipaha Sada disebut artia. Pada hari itu ugamo Parmalim berada pada suasana hening atau disebut robu. Ini merupakan hari perenungan akan perjalanan hidup diri sendiri atau katakan saja dengan dialog batin. Dan hari berikutnya dinamai Suma. Pada hari itu diperingati hari lahir Simarimbulubosi. Upacara dipusatkan di Bale Pasogit. Upacara ini melakukan sesajen juga kepada Mulajadi Nabolon termasuk ketiga wujud pancaran kuasa yaitu Batara guru, Debata Sori dan Debata Balabulan, seterusnya kepada Raja Nasiakbagi dihantarkan asap dupa, dengan bunyi gendang sabangunan.

Upacara Sipaha Lima

Yaitu upacara yang dilakukan pada bulan kalender Batak untuk menyampaikan pujipujian kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada wujud Pancaran Kuasanya Batara guru, Debata Sori dan Debata Balabulan, seterusnya kepada Raja Nasiakbagi, karena atas berkatnya semuanya memperoleh rahmat,sehat jasmani dan rohani. Upacara ini disebut upacara kurban, karena sesaji yang di persembahkan adalah kurban berupa kerbau atau lembu.

Sebenarnya upacara ini berpangkal dari persembahan hasil penuaian pertama kira kira dua liter atau patunoma dari panen kepada Mulajadi Nabolon. Upacara dilakukan besar besaran oleh semua umat parmalim yang datang dari segala penjuru tanah air dan ditampung di Bale Pangaminan. Sajian pertama kepada Mulajadi Nabolon diantar dengan asap dupa, dengan bunyi gendang sabangunan.

Upacara sipaha Lima diselenggarakan pada hari ke 12 – 13 dan 14 menjelang bulan purnama. Hari tersebut dinamakan Boraspati, singkora,dan Samisara berkisar antara bulan Juli – Agustus pada bulan Masehi. Upacara diadakan penuh khidmat tanda syukur kepada Mulajadi Nabolon agar diberi keselamatan dan kesejahteraan pada hari hari berikutnya.










Agama Malim Huta Tinggi-Laguboti Toba Samosir

Dalam hal ugamo malim dalam hal pengikutnya parmalim bahwa Mulajadi Nabolon dalam wujud kuasa Debata Bataraguru menjelmakan Roh-Nya dalam bentuk keilahian pada jasad, simarimbulu bosi yang membimbing manusia dalam bentuk pemerintahan dengan hukumkerajaan. Inilah yang menjadi asal mula kerajaan dan pemerintahan di tanah Batak. Kuasakerajaan ini kemudian diturunkan kepada Siraja Batak dan seterusnya kepada Raja Sisingamangaraja I sampai dengan XII.

Mulajadi Nabolon dalam perwujutan pancaran kuasa Debata Sorisohaliapan melalui Roh-Nya menurunkan kuasa kesucian (timbangan hamalimon) kepada Patuan Raja Malim asal mula pimpinan habonaran-hamalimon di Tanah Batak. Hukum kesucian ini kemudian diturunkan kepada Raja Uti, yang menurut kepercayaan Batak Tua dianggap nabi dan tidak pernah mati.


Disamping itu masih ada lagi tempat untuk menyembelih hewan kurban yang hendak dipersembahkan. Jika pusat Ugamo Malim dipimpin oleh Ihutan maka daerah daerah atau sering disebut cabang ugamo Malim dipimpin oleh Uluan dan tempat peribadatan untuk itu disebut Ruma Parsantian.

Sampai tahun 1987 pengikut Ugamo Malim sekitar 660 rumah tangga sekitar 6000 jiwa. Sumber ajaran tersebut adalah saat awal Mulajadi Nabolon kembali ke banua ginjang bersama Siraja Odapodap dengan Siboru Deak Parujar setelah merestui dan memberkati Siraja Ihatmanisia dengan Siboru Ihatmanisia dengan sabdanya :”Jika kamu penghuni Banua Tonga hendak berhubungan dengan Aku dengan penghuni Banua Ginjang harus dengan sesajen yang suci dan bersih”.

Sudah kuberikan dua hata kepadamu, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan dirimu sendiri harus bersih dari najis. Bersumber dari ajaran tersebut Parmalim memberikan pelean atau sesajen suci dengan dihantar asap dupa dan air suci serta bersih tidak boleh makan daging babi dan anjing serta darah dan bangkai.


Raja Mulia Naipospos

Ugamo Malim adalah agama Batak Tua dan pengikut nya disebut Parmalim. Pada zaman raja-raja Sisingamangaraja I sampai dengan XII Ugamo Malim langsung dipimpin Raja Sisingamangaraja. Setelah raja Sisingamangaraja XII wafat, Raja Mulia Naipospos nuhi amanah Raja Sisingamangaraja XII untuk memimpin ugamo Malim sebagai peminpin spiritual. Amanah tersebut benar benar di jungjung tinggi oleh Raja Mulia Naipospos dan menempatkan pusat kegiatan di Huta Tinggi Laguboti Toba Samosir.

Setelah Raja Naipospos wafat, pimpinan Ugamo Malim, pimpinan ugamo Malim dilaksanakan puteranya Raja Ungkap Naipospos dan kemudian digantikan anaknya Raja Marnangkok Naipospos setelah ayahnya meninggal tahun 1981. Pucuk pimpinan ugamo Malim disebut ihutan berpusat di Huta Tinggi Laguboti. Ihutan memimpin umatnya dalam upacara upacara di Bale Pasogit atau Bale Partonggoan dimana adalah pusat peribadatan Ugamo Malim. Bale Pasogit ini dilengkapi dengan Bale Parpitaan dan Bale Pangaminan.

Selanjutnya Hukum Kesucian ini diturunkan dan diteruskan kepada Raja Sisingamangaraja. Itulah sebabnya berdasarkan kepercayaan Batak Tua bahwa Raja Sisingamangaraja bukan hanya pimpinan duniawi(sekuler) tetapi juga merupakanpimpinan adat dan pimpinan spiritual.

Selanjutnya menurut kepercayaan Parmalim dan Ugamo pengikut Malim setelah Raja Sisingamangaraja XII wafat (secara jasad) karena kasih Mulajadi Nabolon menjelmakan Roh-Nya pada Raja Nasiak bagi yang sebenarnya adalah roh Raja Sisingamangaraja XII sendiri.

Raja ini bertugas menata, membimbing umatnya Parmalim memasuki Rumah kesucian Tuhan. Hingga saat ini Raja Nasiak bagi tetap berada dan menjadi jungjungan Ugamo Malim.

Perihal Raja Nasiak bagi mempunyai dua belas wujud sebutan yaitu:

1. Raja Tubu

2. Raja sitautau

3. Raja tumurut adat

4. Raja panjalahi

5. Raja pangoloi

6. Raja panghophop

7. Patuan Raja Malim

8. Raja Tumurut Uhum

9. Raja shinta Mardongan

10. Raja Pandiori

11. Raja Sioloan

12. Raja Nasiakbagi



Bale Parpitaan adalah tempat untuk mengugamohon atau tempat untuk meniatkan sajian yang hendak dipersembahkan oleh Ihutan, sedang Bale Pangaminan adalah untuk tempat perkumpulan para umat Ugamo Malim dan dapat di tempati menjadi tempat tinggal selama menunaikan upacara upacara.





Nias - full of tradition and culture


Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.
Nias memang unik, pulaunya terisolasi samudera Hindia. Topografinya berkontur ekstrem, dari pantai yang landai langsung menanjak ke daerah perbukitan dan pegunungan. Di daerah ini tradisi megalit belum terhapuskan. Nias termasuk salah satu dari tujuh tempat di dunia yang budaya megalitnya masih hidup, The Living Megalith Culture. Dan karena itulah UNESCO merencanakan memasukan Nias sebagaiWorld Heritage, warisan dunia dari Indonesia.

Tradisi Fahombo Nias

Kabupaten Nias memiliki andalan pariwisata yaitu Tradisi Lompat Batu atau Fahombo yang yang sering disebut Batu Hombo yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 meter. Konon ajang tersebut diciptakan sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu.


Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Jika seorang putra dari satu keluarga sudah dapat melewati batu yang telah disusun berdempet itu dengan cara melompatinya, hal ini merupakan satu kebanggaan bagi orang tua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa pada umumnya.

Para pemuda ini kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya jika ada konflik dengan warga desa lain. Melihat kemampuan seorang pemuda yang dapat melompat batu dengan sempurna, maka ia dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya: menikah, membela kampungnya atau ikut menyerbu desa musuh dan sebagai nya.

Tradisi Adat Pernikahan Nias “taole mbawi”

Umumnya aktivitas adat yang paling penting dalam adat NIAS adalah perkawinan. Pada masa dahulu, perkawinan di NIAS telah ditentukan dari sejak anak kecil / ditunangkan. Tidak diperlukan persetujuan dari anak gadisnya, bahkan setelah ia dipertunangkan sampai hari perkawinannya, si gadis tidak boleh sama sekali menampakkan diri kepada tunangannya dan kaum kerabatnya, tradisi ini masih berlaku sampai sekarang di pedesaan NIAS.

Perkawinan adalah kehidupan yang harus diteruskan diatas bumi ini.Perempuan dianggap sebagai sumber kehidupan. Mengawini perempuan di NIAS disebut juga : MANGAI TANOMO NIHA ( mengambil benih manusia ) yang terdapat pada pihak perempuan : disebut dengan istilah UWU/Sibaya atau Ulu ( artinya = paman /saudara ibu ). Perempuan dilambangkan sebagai hulu (kehidupan ) dan laki laki disimbolkan sebagai hilir(kematian ).Untuk memiliki kehidupan,lelaki harus melawan arus sungai (manoso ) disebut Soroi Tou,menuju hulu ( pihakj perempuan) yang berada diatas (ngofi) tepian sungai kehidupan itu.

Dalam pernikahan selain tahap-tahap yang cukup njelimet kalau semua diikuti (ada banyak ketua-ketua adat sekarang yang mulai menyederhanakan), ada satu tata cara yang menarik untuk diperlihatkan, yaitu acara “Taole mbawi”, yang dalam bahasa Indonesia lebih kurang berarti, “pemberian ikatan khusus pada punggung seekor babi”. Acara “Taole mbawi” hanya dapat disaksikan pada acara pernikahan dan di rumah mempelai laki-laki.
Pernikahan dalam adat masyarakat Nias, yang disebut jujuran atau mas kawin adalah terdiri dari berapa ekor babi, berapa juta uang dan berapa karung beras. Jujuran ini bukan untuk menjadi harta keluarga perempuan atau harta awal dari keluarga penganten, semuanya adalah sebagai kebutuhan yang dipergunakan pada setiap tahap yang dilalui.
Satu hari sebelum hari pernikahan, Dan sebelum diberangkatkan dari rumah keluarga pria, dilakukan acara adat oleh ketua-ketua adat, dengan istilah “famofanõ mbawi nisõbi” atau pemberangkatan babi penganten. Dan sebelum diberangkatkan dilakukan acara “taole mbawi”. Cara taole mbawi adalah dengan melilitkan tali yang sudah dipersiapkan pada badan babi, dari ketiak sampai ke punggung babi dan menciptakan beberapa ikatan di punggung. Setelah itu babi di beri makan yang terdiri dari nasi dan sebutir telur rebus. Sebelum diberangkatkan maka salah seorang ketua adat memimpin doa. Baru setelah semua itu selesai babi sudah boleh diberangkan menuju ke rumah mempelai perempuan.

Ketika ditanya makna dari semua acara “taole mbawi” ini, tidak ada satu pun yang dapat menjelaskan pengertiannya secara masuk akal. Hanya dikatakan bahwa, “dari dulu sejak nenek moyang hal ini mereka telah lakukan, maka merupakan kesalahan kalau generasi sekarang tidak melakukannya.”

Jadi peristiwa itu suatu tradisi yang turun temurun, dan semua takut “kena tulah” kalau tidak melakukannya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya acara “taole mbawi” itu mengandung makna, untuk memperlihatkan perbedaan bahwa inilah jujuran babi yang paling besar di antara jujuran yang lain. Kalau babi nya besar maka suatu kebanggaan tersendiri bagi mempelai pria bahwa ia dapat memberi yang terbaik sebagai bukti kesungguhan hati untuk menikah dengan gadis pujaannya.

Demikian pula sebaliknya, merupakan kebanggaan bagi keluarga mempelai perempuan bahwa ia dihargai dan dihormati oleh keluarga mempelai pria dan menambah status kewibawaan di tengah masyarakat desanya sendiri bahwa menantunya bukanlah orang biasa tetapi orang yang berkecukupan dan terpandang.


Pusuk Buhit - Huta Batak - Temukan rahasianya..!!


Horas ma di sude hita.
Pomparan ni si Raja Batak.
Natua tua do namandok :
Sahat ma tu sianjur mula mula,
Sahat ma tu sianjur mula jadi,
mula ni hatubuan.
Sahat ma sude, pomparan ni si Raja Batak,
maduma jala mamora,
Sahat ma tu parhorasan Sahat ma tu panggabean

Suku Batak yang sudah beredar di seluruh pelosok nusantara, memiliki cerita dan kisahnya tersediri yang orisinal. Sebagai salah seorang mahasiswa, saya tidak memiliki wawasan yang luas tentang hal itu, tetapi saya berupaya untuk mencari tahu tentang asal muasal dari si Raja Batak dan cerita tentang Pusuk Buhit. Cerita nya berawal dari Pusuk Buhit, sebuah perkampungan batak yang berada di Kecamatan Sianjur Mula Mula, kira kira 4 jam perjalanan dari kota kelahiran saya, Balige Toba Samosir.
Dan Menurut berbagai referensi web yang saya pahami, bahwa berdasarkan kepercayaan masyarakat, di Pusuk Buhit ini pertama sekalinya sebutan Mula Jadi Nabolon menampakkan diri. Dan tempat ini masih di anggap keramat dan misteri bagi pengunjung wisata. Namun jika menilai: Pusuk Buhit, Batu Hobon, Sopo Guru Tatea Bulan dan Mual Si Pitu dai masih sebuah tempat yang belum banyak di kunjungi oleh masyarakat batak sendiri. hal itu karena banyak hal alasan pribadi.
Dari Pusuk Buhit, sebagai pengunjung pertama kita akan tertegun dan heran dengan panorama wisata alam yang sangat indah. Di tempat ini kita akan juga menyaksikan panorama huta ginjang, gagahnya danau toba, perkampungan Sagala.
Objek Wisata Budaya Rumah Si Raja Batak
Sesampainya di Pusuk Buhit, dengan menembus beberapa jam perjalanan dari kota Tele, Pengunjung akan menyaksikan aliran air terjun yang percis bergandengan langsung dengan perbukitan. sekaligus menikmati sunrise di pagi hari begitu juga aksi terbenamnya matahari dari celah bukit serta panorama latar Danau Toba.

Sopo Guru Tatea Bulan - Sianjur Mula Mula







Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
Molo adong na hurang lobi, Asa hita Patingkos hita mardame dame.

Gereja HKBP Paronan Nagodang - Laguboti

Masyarakat Toba Samosir mayoritas menganut agama Kristen. Dan memang kenyataannya bahwa masyarakat itu tekun beribadah dan memiliki cerita yang original tentang yang yang diyakininya. Kehidupan yang religius masyarakat Toba Samosir sudah mendarah daging kepada setiap keturunannya. Umumnya adalah HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan ) dimana gereja tersebut di dapatkan hampir di setiap tempat dan bahkan di pelosok desa yang ada di kabupaten Toba Samosir.

Berikut adalah sebuah gereja Tradisional HKBP, yang merupakan gereja tua yang di bangun dengan model dan arsitek lama. Gereja tersebut adalah Gereja HKBP Paronan Nagodang yang di jema’ati oleh Desa Ompu Raja Hutapea Timur dan Desa Pardinggaran yang ada di Kecamatan Laguboti, Toba Samosir.


Gereja HKBP Paronan Nagodang - Laguboti

Sampai saat ini, gereja tersebut masih berdiri kokoh dengan megahnya, tempat partungkoan bagi masyarakat setempat dan naposobulung huria Paronan Nagodang. Tanpa sebut nama, bahwa Gereja tersebut meluncurkan naposo bulung yang berpendidikan dan religius yang sudah beredar di seluruh penjuru nusantara Indonesia sebagai generasi penerus bangsa. Akhir kalimat : semoga tetap berkembang dan terus maju.


Gereja HKBP Paronan Nagodang - Laguboti



Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

-horas-

javascript:void(0)